
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah merupakan keputusan penting (dalam Muktamar Muhammadiyah di Jakarta) untuk dapat dijadikan pedoman atau acuan bagi perilaku dan tindakan warga Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma Islami.Download dalam DPF
Peranan Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan
-
Oleh: Nabil Abdurahman
Dalam setiap sejarah bangsa-bangsa di dunia, terdapat beberapa titik kritis yang dianggap sebagai momentum sangat menentukan dalam perjalanannya. Pada titik-titik itu terjadi peristiwa yang sangat krusial bagi masa depan bangsa tersebut. Sehingga dapat dibayangkan, jika pada titik-titik itu, bukan terjadi peristiwa sebagaimana yang telah terjadi tersebut, maka keadaan bangsa itu pada masa sekarang sudah akan lain ceritanya.
Kemudian dalam umur manusia juga ada titik-titik yang menunjukan bahwa manusia tersebut mengalami perubahan, pertumbuhan dan berkembang, baik dari segi fisik, psikologis, maupun yang lainnya, yang secara umum biasanya terbagi ke dalam empat titik/fase: anak-anak, remaja, pemuda dan tua.
Dalam keterbatasan wawasan kesejarahan Indonesi, saya memberanikan diri memaparkan satu titik dari beberapa titik-titik penting dalam sejarah bangsa ini, dan dengan mengambil satu titik dari fase umur manusia, yaitu yang ada kaitannya dengan: Peranan pemuda indonesia dalam pergerakan kemerdekaan.
Ketika kita membicarakan sebuah tema yang menjadi objek pembicaraannya menghususkan suatu golongan masyarakat tertentu, maka kita dituntut untuk mengenal golongan tersebut terlebih dahulu, sebelum membicarakan hal-hal pokok lainnya yang ada kaitannya dengan objek tersebut, agar pembicaraannya bisa lebih fokus dan terarah. Dan tema yang ada kaitannya dengan pemuda biasanya banyak mendapat sorotan yang signifikan dari para pemerhati atau kalangan luas, hal ini dikarenakan:
- Hasan al-Banna mengatakan: “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”.
- Bung karno berkata: “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia
- Pepatah arab mengatakan: “Syubanul yaom, rijalul ghad” artinya: pemuda/remaja dimasa sekarang ini pemimpin dimasa depan. “Inna fi yadi syubban amrol ummah, wa fi aqdamihim hayataha” artinya: sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya suatu umat/masyarakat.
Dengan ungkapan-ungkapan di atas, menunjukan bahwa pemuda merupakan sumber potensi yang dapat menciptakan keadaan yang lebih baik melalui berbagai kekuatan yang dimilikinya baik dari segi fisik, maupun pemikirannya dalam membangun suatu peradaban masyarakat atau bangsa.
Definisi Pemuda
Banyak yang mengatakan pemuda bukan dilihat dari usianya melainkan dari semangatnya. Namun ada juga yang tidak sepaham dengan pernyataan tersebut. Oleh karenanya mari kita lihat definisi pemuda tersebut dari dua segi: (lagi…)
Mengembalikan Makna Kemerdekaan
Oleh: Nabil Abdurahman
Tepat pada tanggal 17 Agustus tahun ini, bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-64, suatu bilangan yang mencerminkan bahwa bangsa ini telah berumur enam puluh empat tahun. Kalau kita cermati umur negara-negara terdahulu -seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Mukadimahnya- sebagian besarnya tidak terlepas dari tiga ajyal (tahapan sejarah) untuk sampai kepada peradabannya sendiri, yang mana masing-masing tahapan tersebut berlangsung selama 40 tahun. Dan -menurutnya- pada tahapan kedualah biasanya suatu bangsa sudah menemukan peradabannya sendiri, karena pada tahapan selanjutnya adalah tahapan kemunduran. Dengan melihat gambaran ini, sudah sepatutnyalah bangsa Indonesia sudah menemukan identitasnya dan fitrah kebangsaannya, yaitu sebagai bangsa yang benar-benar merdeka dan berdaulat yang mampu mendongkrak dirinya untuk lahir jadi bangsa yang besar dan beradab, kuat dan dihargai, dan yang mampu -sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945- “membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.” (lagi…)
Temu Wicara Dengan Prof Dr Din Syamsuddin
PCIM Libya- pada tanggal 7 November kemarin PCIM Libya berkasempatan mengadakan temu wicara dengan ketua PP. Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin disela-sela kegiatan beliau dalam mengahdiri qiyadah asy-sya’biyah al-islamiyah al-álamiyah (kepemimpinan kerakyatan islam dunia). (lagi…)
Bangunan Masyarakat sebagai Panacea
(Sumbangsih Agama Islam untuk Negara)
Oleh: Moh Dani
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
(Ali ‘Imran: 110 )
Disaat seorang kepala negara, menteri dan para ahli sejagat raya berdebat panjang dan bingung memikirkan konsep negaranya masing-masing demi kesejahteraan masyarakatnya. Disaat para pakar tata negara berkonsentrasi penuh menyusun undang-undang yang mengatur bangsanya agar ta’at kepada pemerintah. Dan disaat banyak orang mengkambing hitamkan “satu agama” yang dianggap mengacaukan keamanan internasional. Jauh sebelum itu Al-Quran telah menganjurkan umatnya untuk ta’at dan patuh terhadap ajaran-Nya, termasuk didalamnya ta’at dan patuh terhadap para pemimpin negaranya.
Maka Agama Islam tidaklah egois, dia bukanlah suatu Agama yang hanya mementingkan Tuhannya. Perintah dan larangan-Nya dita’ati bukan semata-mata untuk kemaslahatan Agama dan hamba-Nya saja. Keta’atan Muslimin dan Muslimat terhadap-Nya akan menimbulkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya berhenti sampai disana, keseimbangan yang muncul itu akan sangat terasa besar manfa’atnya dirasakan oleh orang lain, termasuk orang non-Islam.
Keseimbangan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah contoh keseimbangan yang dihadiahkan untuk kemaslahatan manusia seluruhnya. Al-Islamu Rahmatan lil ‘Alamin. (lagi…)
Manajemen Waktu
By: Lee_cha
Mengatur waktu atau time management sangat penting, apalagi kita menyadari bahwa waktu kita sangat terbatas. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia. Sudahkah kita berpikir untuk memenej waktu?
Setiap manusia pasti mempunyai banyak waktu luang, hanya saja mereka tidak menyadari akan hal itu, terutama pada waktu – waktu yang sangat berharga. Diantaranya seperti selesai sholat subuh, antara adzan dan iqomah dan waktu sepertiga malam terakhir.
Contoh, waktu yang terbuang sia-sia misalnya antara adzan dan iqomah. Bila dihitung rentang waktunya mulai dari shalat dhuhur, asar, isya, dan subuh adalah sekitar 15 menit dikalikan dengan 4 ( waktu dhuhur, asar, isya, dan subuh), hasilnya 60 menit atau 1 jam. Alangkah bagusnya jika digunakan untuk menghafal Al-Qur’an atau mengkajinya dengan muroja’ah. Lain halnya dengan waktu sholat Maghrib, disini tidak ada waktu lagi untuk menghafal karena jaraknya sangat pendek*
Coba renungkan, kebanyakan umur manusia di zaman sekarang ini paling lama sekitar 80 tahun. Untuk apakah umur sepanjang itu? Apakah pantas jika digunakan untuk berfoya-foya, mengejar duniawi baik berupa kekayaan, pangkat, jabatan, atau yang lebih besar lagi agar terlihat lebih unggul dibandingkan yang lain? Padahal semua itu akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Untuk itu kita harus sadar dan ingat bahwa hidup tidak hanya mengejar materi. Hidup hanya sekali maka haruslah berarti, bermanfaat dunia dan akhirat.
Jika kita meninjau lebih dalam, kita dapat melihat bahwa sebenarnya pengaturan waktu itu adalah manajemen diri. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membiasakan diri mengontrol waktu. Karena dengan kebiasaan itu disiplin dalam diri kita akan muncul tanpa disadari. (lagi…)
Pergi
Berita itu datang membawa kabar
Bagai petir yang menyambar
Membuat hati terus berdebar
Bergejolak tanpa sadar
Membawa angan terus berlayar
Berputar tanpa sadar
Berjuta rasa yang kurasa
Sampai raga tak berdaya
Menahan sesak dalam dada
Saat kutahu kau tiada
Pergi ke arah sana
Hanya tanya yang menerpa
Menyelimuti alam dada
Kau permata yang kupunya
Kenapa harus tiada
Kau permata tanpa noda
Kenapa harus pergi
Meninggalkan ku sendiri
Menyepi tanpa arti
Dalam ruang penuh duri
Kini kusadari
Tak ada yang abadi
Walau lama ku berdiri
Namun pasti ku kan pergi
R i z k i A z m i
Umar Mukhtar; Satu diantara Pahlawan Islam di era Penjajahan
Umar Mukhtar lahir pada tahun 1861. Tidak diketahui tanggal pastinya. Ketika remaja ia memasuki tarekat Sanusiyah dan menjadi sufi. Tarekat Sanusiyah adalah tarekat yang unik. Tarekat ini tidak meninggalkan dunia akan tetapi sangat peduli pada persoalan dunia. Tarekat ini sering berperang melawan ketidakadilan. Tarekat ini juga memperkuatkan ekonomi anggotanya.
Agaknya tarekat ini sesuai dengan do’a Abu Bakar Shidiq RA seorang sahabat utama Rasulullah SAW. Bunyi doa Abu Bakar adalah, “Ya Allah! Jadikanlah dunia ini di tangan kami! Bukan di hati kami!”. Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin Ali As Sanusi Al Idrisi (bukan Muhammad Idris As Sanusi, raja Libya yang lalim). Tarekat ini menyebar luas sampai ke Mesir, Sudan, Chad, Maroko, Aljazair, dan Tunisia. Muhammad bin Ali As Sanusi Al Idrisi inipun kemudian menjadi raja di Cyrenaica, salah satu wilayah di Libya (keturunannya nantinya menjadi raja di seluruh Libya) di bawah Khilafah Turki Usmaniyah.
Beliaupun berhasil membuat sejahtera rakyat Cyrenaica. Sungguh sufi yang unik! Sufi yang tidak beruzlah meninggalkan dunia melainkan membangun dunia untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia, sambil tetap hidup zuhud. Umar Mukhtarpun menjadi anggota tarekat ini. Umar Mukhtar mengikuti Tarekat ini sampai ia meninggal. Ketika dewasa sambil melaksanakan ajaran-ajaran tarekat beliau pun menjadi pengajar ilmu tasawuf dan juga ilmu fiqh di sebuah sekolah Islam di Libya. (lagi…)
Mengenal Muhammadiyah Lebih Dekat
Menilik kembali studi kemuhammadiyahan dari aspek historis, organisatoris dan ideologis.
Oleh: Nayif Fairuza*
Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah terus berkembang begitu pesatnya hingga kini. Hal tersebut bisa kita jumpai mulai dari berbagai kajian dari tingkat ranting hingga tingkat pusat, juga adanya berbagai amal usaha, lembaga-lembaga, ortom-ortom yang bernaung di bawah organisasi yang usianya hampir satu abad ini telah menyebar di seluruh pelosok tanah air.
Tidak begitu banyak yang bisa penulis sajikan dalam kesempatan kali ini, hanya selayang pandang Muhammadiyah yang ditinjau melalui aspek histori, organisasi dan ideologi.
Masih terbersit dalam ingatan penulis ketika masih sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogkarta. Semasa masih duduk di bangku tsanawiyah, tiga aspek inilah yang diajarkan dalam meteri kemuhammadiyah sebagai langkah awal untuk mengenal Muhammadiyah.
Aspek Historis
Muhammadiyah didirikan di kampung kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah sendiri dikenal sebagai salah satu gerakan yang menghembuskan nilai-nilai tajdid (pembaruan) pemikiran Islam juga bergerak di berbagai bidang kehidupan umat. Nama Muhammadiyah sendiri diambil dari nama Nabiyullah Muhammad –shalllahu ‘alaihi wasallam- dan ditambah dengan “ya’ nisbah”. Maksudnya secara perseorangan, siapa saja yang menjadi warga dan anggota Muhammadiyah dapat menyesuaikan dengan pribadi Nabi Muhammad –shallahu ‘alaihi wasallam-.
Dari beberapa sumber yang penulis dapatkan, ada beberapa hal yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah, antara lain: (a) sosok seorang Muhammad Darwis (nama kecil KH. Ahmad Dahlan) itu sendiri; sejak kecil beliau memang telah dikenal sebagai seorang yang cerdas dan mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Hal itu tercermin ketika beliau dengan tegas dan berani membenarkan arah kiblat yang tadinya menghadap kearah barat, juga ketika beliau sempat berguru kepada kyai-kyai yang ada di tanah Jawa untuk menuntut ilmu, (b) situasi negara Indonesia yang masih berada dalam masa pemerintahan kolonial Belanda; faktor yang satu ini juga tak bisa dipungkiri untuk menjadi salah satu faktor terpenting dalam kacamata historis kelahiran Muhammadiyah. Sudah sangat mafhum jika suatu penjajah masuk selain menjajah tentunya ingin memasukkan budaya-budaya mereka juga, tak terkecuali tujuan utama mereka yaitu gold (emas), glory (kemenangan) dan gospel (agama). Tidak hanya itu, perlu diketahui bersama bahwasanya mayoritas yang memperjuangan dalam memperebutkan kemerdekaan adalah umat Islam, dalam hal ini Muhammmadiyah sebagai organisasi Islam tentunya terdorong untuk mewujudkan hal tersebut, (c) realitas sosio-agama di Indonesia; jika kita mengkaji sifat dakwah Muhammadiyah tentunya akan kita temukan dua hal, yang pertama kedalam dan yang kedua keluar. Maksud dari yang pertama adalah dakwah kepada umat Islam itu sendiri. (lagi…)
Koalisi; Antara Kepentingan Elit Politik dan Rakyat
Oleh: Nabil Abdurahman
Secara etimologi koalisi berasal dari bahasa latin co-alescare, artinya tumbuh menjadi alat pengabung. (Ensiklopedi populer politik pembangunan pancasila edisi ke IV (1988:50). Maka koalisi merupakan persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai. (www.wikipedia.com).
Oleh karena itu, dalam praktis partai politik koalisi sangat akrab sekali. Dimana perbedaan idiologi, kultural atau atribut masing-masing partai diikat isu bersama persamaan persepsi terhadap masalah atau kepentingan. Karena dalam dunia politik yang sering berbicara adalah kepentingan; baik itu kepentingan politik murni yaitu untuk mendapatkan jabatan publik strategis dengan membagi-baginya di antara sesama peserta koalisi, maupun kepentingan lain seperti adanya musuh bersama. Bahkan sering kali kambing hitam itu menjadi kebutuhan dasar yang sengaja diciptakan sebagai alasan bersatu.
Dalam hal ini Syamsudin Haris menyatakan bahwa “secara teoritis, masalah koalisi sebenarnya hanya relevan dalam konteks sistem pemerintahan parlementer. Terciptanya koalisi sebenarnya diperuntukan hanya dalam menggalang dukungan dalam membentuk pemerintahan oleh partai pemenang pemilu, serta dibutuhkan untuk membangun dan memperkuat oposisi bagi partai-partai yang mempunyai kursi di parlemen namun tidak ikut memerintah”. (lagi…)
