Islam dan Modernisasi Politik

Maret 28, 2009 at 7:10 pm Tinggalkan komentar

Oleh: Ahmad Nubail

Umat Islam saat ini sedang dilanda rintangan dan ujian berat. Disaat dunia semakin menjauh dari nilai-nilai agama. Sebuah gelombang modernisasi yang diusung dengan nilai-nilai sekulerisme, dimana hampir semua negara muslim sudah tak lagi menpunyai “taring” di percaturan dunia internasional, hege-moni negara-negara besar pun tak ter-elakkan.
Negara-negara dunia ketiga -termasuk umat Islam sendiri- yang saat ini, mereka sebut “the Others” hanya mampu menjadi pemeo alias ekornya saja. Sehingga perla-kuan yang diberikan pun berbeda. Standar ganda yang sering dilakukan membuktikan adanya superior dan inferior yang sedang berlansung saat ini.
Belum lama ini kita telah saksikan rentetan kejadian yang menim-pah umat Islam, mulai dari tuduhan fundamentalis, teroris, dan fasis. Sampai kepada penghinaan terhadap nabi Muhammad lewat karikatur oleh majalah Denmark yang disebarkan luaskan media Barat atas nama kebebasan berekspresi. Yusuf Qardhawi ketua organisasi persatuan cendekiawan Muslim internasional (IUMS) pun mengalang dana untuk membuat website yang akan menampilkan image Nabi Muhammad dan umatnya sebagai anti tesis terhadap kuatnya dominasi media massa Barat.
Masih terngiang di telinga kita ucapan Paus Benediktus XVI yang menghina dan mengecam Islam dan nabi Muhammad SAW. Masih terlihat oleh mata kita ikhwah-ikhwah kita di Palestina, Irak, Afganistan, dan Libanon yang sampai saat ini masih merasakan rintihan kedzoliman perang. Lalu dimanakah media masa kita ?
Sementara itu, umat Islam masih disibukkan dengan perbedaan-perbedaan madzhab, syi’ah-sunnah, serta mengurusi urusan perut sendiri. Paradigma madiyah pun telah mengkontaminasi alam pikir islami yang telah diajarkan Rasulullah. Ditambah lagi kondisi negara-negara muslim yang masih menikmati dan senang menjadi korban neo-Kolonialisme negara-negara kapitalis.
Demokratisasi dan modernisasi tetap menjadi menu spesial negara kapitalis dalam mempertahankan hegenominya. Konsep yang di-tawarkan bukanlah bebas nilai. Artinya se-cara epistimologi suatu konsep yang disusun, tidak terlepas pada sisi-sisi histories yang mendasari lahir-nya konsep tersebut.
Modernisasi lahir dari Barat yang manakala dominasi dan doktrin sempit gereja mendikte dan mengekang kebebasan sehingga modernisasi yang terjadi adalah dengan meninggalkan nilai-nilai agama gereja. Dengan semangat modenisme inilah mereka mengangkat nilai-nilai sekulerisme yang akan mengantarkannnya kepada demokratisme.
Modernisasi sendiri adalah proses, cara, atau perbuatan atau peralihan sikap dan mentalitas sebagi warga masyarakat untuk menyesuaikan hidup dengan tuntutan hidup masa kini.
Adalah suatu hal yang lumrah, bila kita senantiasa melakukan perubahan dalam segala hal yang mengarah pada perbaikan konstruktif. Khususnya dalam hal politik Islam yang saat ini dirasa kurang bisa memberikan warna dan advokasi bagi umatnya. Hal ini sangat disayangkan Sekali, karena Islam dengan jumlah umat yang banyak tidak mampu memberikan pengayoman bagi pemeluknya. Ini berarti, bahwa Islam sebagai agama universal belum bisa dipahami secara komprehensif.
Agama saat ini -kalau boleh penulis katakan- menjadi bahan komoditi politik yang sangat strategis. Sehingga isu-isu politik yang lebih banyak bernuansa religius (baca:agama )pun banyak dijadikan sebagai alat legalitas politis, dimana dialog antar agama maupun peradaban belum mampu mencapai titik harmonis dan kesepahaman yang diharapkan. Disisi lain, agama secara yuridis kurang disukai di wilayah politik, namun secara defacto banyak keputusan-keputusan politik yang lahir dari semangat roh religius elit politik.
Amerika yang dikenal sebagai “polisi dunia” sangat nampak sekali nuansa teokrasi yang semakin meningkat. Dimana pengaruh neo-Konservatif mendominasi kebijakan politik AS. Karen Armstrong yang menulis buku Muham-mad, mengatakan, ”Kita harus berpikir bahwa orientasi permusuhan terhadap Islam di Barat adalah bagian dari sistem tata nilai Barat, yang telah mulai terformula ber-samaan dengan masa kebangkitan dan Perang Salib.” Pertarungan agama dan sekulerisasi pun tak dapat dihindari, setiap hari kita biasa saksikan di televisi perseteruan yang terjadi antara elit politik dan elit agamawan dengan demonstrasinya. Sungguh permandangan yang tidak harmonis dan terkesan sebagai konflik yang “abadi.”
Islam sendiri bukan sekedar agama yang penuh dengan ritual dan praktek ibadah. Namun ia adalah agama universal yang mencakup segala urusan dunia dan akhirat. Islam sebagai agama transformasi hendaknya mampu dikejawan-takan dalam hal politik, dalam hal ini modernisasi politik islam saat ini harus bisa dirasakan bagi umatnya dengan berbagai tindakan advokasi, bargaining serta lobi-lobi yang lebih memihak kepada umat Islam.
Modernisasi politik menurut Huntington mempunyai tiga pengertian. Pertama, melibatkan rasionalisasi otoritas dengan mengganti sejumlah sumber otoritas politik tradisional, keagamaan, kekeluargaan, dan etnik dengan otoritas politik yang benar-benar sekuler dengan bendera kebangsaan. Kedua, diferensiasi fungsi-fungsi politik baru pembangunan struktur yang menekankan aspek-aspek pengkhususan agar lebih berfungsi. Ketiga, peningkatan partisipasi politik bagi kelompok social seluruh masyarakat.
Donald Eugene Smith dalam konteks modernisasi politik menyoroti perpindahan pandangan politik elit tradi-sional ke pandangan politik partisipasi massa, yang merupa-kan salah satu ciri fundamental dalam proses pembangunan politik, yang sejalan dengan perputaran massa, lambang-lambang, masalah-masalah, organisasi-organisasi, dan pemimpin agama memainkan peranan penting untuk menarik kelompok massa kedalam proses percaturan politik. Secara sederhana, Smith mengatakan, dikalangan masyarakat tradisional, agama dapat berperan sebagai sarana untuk menyadarkan massa terhadap percaturan politik itu.
Dalam konteks tersebut, Muhammad AS Hikam menyebut bahwa sesungguhnya agama mempunyai fungsi transformasi. Dan Islam sebagai sebuah agama, bukan saja suatu sistem kelembagaan yang bersifat kanonik lebih dari sekedar pengertian tentang hubungan personal antara manusia dengan tuhan. Islam sebagai kekuatan transformatif mempunyai formulasi sendiri mengenai tatanan sosial, politik, dan ekonomi. Menurutnya juga, bahwa kebangkitan Islam -bukan dalam artian Islam pernah mati pasif-reaktif- merupakan upaya aktif untuk mem-bangun keselarasan tatanan sosial sesuai dengan visi ideologi yang diilhami secara kanonik mengenai realitas. Sementara Chandra Muzaffar melihat proses kebangkitan itu sebagai sebuah transformasi dalam konteks suatu perjuangan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dipahami sebagai perilaku Islam, untuk taat kepada sikap dan praktik-praktik tertentu, dan untuk memajukan pandangan dunia Islam.
Muammar Qadhafi memandang bahwa aktifitas keberagaman tidak dapat direduksi hanya sebagai ritual keberagamaan yang hanya mengurusi praktek-praktek ibadah dan keyakinan. Khususnya agama islam. Namun tradisi dan praktek Islam harus digunakan untuk memper-kuat ikatan sosial dan politik diantara muslim. Dalam pidatonya dalam pertemuan pemuda di Moravia pada bulan juli1983 menyatakan, bahwa Islam harus efektif secara politik, keimanan seseorang kepada prinsip-prinsip Islam akan mendapat pahala dari tuhan, tetapi ini saja tidak cukup, Islam diperlukan sebagai dasar aksi bersama diantara bangsa-bangsa muslim. Bangsa-bangsa ini harus mendukung seluruh gerakan pembebasan revolusioner, tanpa memandang apakah mereka yang melakukannya muslim atau bukan.
Ia pun menyatakan ketidaksetujuannya terhadap fakta bahwa bangsa non-muslim di Afrika adalah bangsa yang maju.Sementara bangsa muslim secara umum adalah bangsa yang melindungi para pemeluknya, asalkan para muslim bersatu dalam satu keimanan, satu kitab suci, satu nabi, satu kiblat. Paham religius pemersatu ini jika diterjemahkan kedalam aktifitas politik akan membela orang-orang beriman untuk melindungi mereka dan menciptakan rasa persaudaraan diantara mereka. Jika ini tidak dilaksanakan, Islam tak akan memiliki arti apa-apa bagi pemeluknya.
Melihat fakta yang terjadi pada umat manusia dan khususnya umat Islam akhir-akhir ini, dimana ketidakadilan dan kedamaian dunia semakin memprihatinkan. Islam sebagai rahmatan lil‘alamin harus mampu menjadi solusi dalam merestorasi kembali kekuatan politik yang efektif. Di era modern, segala aspek kehidupan telah banyak menga-lami perubahan termasuk di sektor politik. Maka diperlukan-lah sebuah perubahan politik umat Islam yang up to date yang terbebas dari nilai-nilai seluler dari modernitas Barat yang sekarang menjadi komoditi negara-negara sekuler. Oleh karena itu, kita harus dapat melakukan islamisasi- modernitas untuk menjaga identitas serta otensitas agama kita.
Islamisasi-modernitas adalah merupakan sebuah upaya untuk membangun kembali identitas dalam dunia yang sudah kehilangan makna dan menjadi tak berbentuk serta mengasingkan. Dengan tetap menjaga nilai-nilai religuisitas. Karena modernitas dan modernisasi yang dilakukan saat ini merupakan paradigma diluar Islam,di-kuatirkan akan mengakibatkan kehilangan otensitas atas jatidirinya karena rentan terhadap ideologi sekuler.
Nah, akankah umat Islam mampu tampil ”cantik”memainkan perannya sebagai rahmatan lil ‘alamin di panggung perpolitikan dunia. Hanya waktulah yang akan mampu membuktikannya.

Waallahu a’lam bisshowab..

About these ads

Entry filed under: Artikel Bebas. Tags: .

Teks Pidato Pemimpin Libya dalam Peringatan Maulid Nabi SAW 1430 H/2009 M di Mauritania Metodologi Tafsir Muhammad Abduh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Alamat Kami

International Islamic Call College P.O.Box 3369 Tripoli Libya Telp: - (+218) 0928726451 - (+218) 0927318249 E-mail: pcim_libya@yahoo.com

Kalender

Maret 2009
S M S S R K J
    Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: