Archive for Mei, 2009

Manajemen Waktu

By: Lee_cha

UntitledMengatur waktu atau time management sangat penting, apalagi kita menyadari bahwa waktu kita sangat terbatas. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia. Sudahkah kita berpikir untuk memenej waktu?
Setiap manusia pasti mempunyai banyak waktu luang, hanya saja mereka tidak menyadari akan hal itu, terutama pada waktu – waktu yang sangat berharga. Diantaranya seperti selesai sholat subuh, antara adzan dan iqomah dan waktu sepertiga malam terakhir.
Contoh, waktu yang terbuang sia-sia misalnya antara adzan dan iqomah. Bila dihitung rentang waktunya mulai dari shalat dhuhur, asar, isya, dan subuh adalah sekitar 15 menit dikalikan dengan 4 ( waktu dhuhur, asar, isya, dan subuh), hasilnya 60 menit atau 1 jam. Alangkah bagusnya jika digunakan untuk menghafal Al-Qur’an atau mengkajinya dengan muroja’ah. Lain halnya dengan waktu sholat Maghrib, disini tidak ada waktu lagi untuk menghafal karena jaraknya sangat pendek*
Coba renungkan, kebanyakan umur manusia di zaman sekarang ini paling lama sekitar 80 tahun. Untuk apakah umur sepanjang itu? Apakah pantas jika digunakan untuk berfoya-foya, mengejar duniawi baik berupa kekayaan, pangkat, jabatan, atau yang lebih besar lagi agar terlihat lebih unggul dibandingkan yang lain? Padahal semua itu akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Untuk itu kita harus sadar dan ingat bahwa hidup tidak hanya mengejar materi. Hidup hanya sekali maka haruslah berarti, bermanfaat dunia dan akhirat.
Jika kita meninjau lebih dalam, kita dapat melihat bahwa sebenarnya pengaturan waktu itu adalah manajemen diri. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membiasakan diri mengontrol waktu. Karena dengan kebiasaan itu disiplin dalam diri kita akan muncul tanpa disadari. (lagi…)

Mei 25, 2009 at 10:57 am Tinggalkan Komentar

Pergi

Berita itu datang membawa kabar
Bagai petir yang menyambar
Membuat hati terus berdebar
Bergejolak tanpa sadar
Membawa angan terus berlayar
Berputar tanpa sadar

Berjuta rasa yang kurasa
Sampai raga tak berdaya
Menahan sesak dalam dada
Saat kutahu kau tiada
Pergi ke arah sana

Hanya tanya yang menerpa
Menyelimuti alam dada
Kau permata yang kupunya
Kenapa harus tiada
Kau permata tanpa noda

Kenapa harus pergi
Meninggalkan ku sendiri
Menyepi tanpa arti
Dalam ruang penuh duri

Kini kusadari
Tak ada yang abadi
Walau lama ku berdiri
Namun pasti ku kan pergi

R i z k i A z m i

Mei 25, 2009 at 10:31 am Tinggalkan Komentar

Umar Mukhtar; Satu diantara Pahlawan Islam di era Penjajahan

umar mukhtarUmar Mukhtar lahir pada tahun 1861. Tidak diketahui tanggal pastinya. Ketika remaja ia memasuki tarekat Sanusiyah dan menjadi sufi. Tarekat Sanusiyah adalah tarekat yang unik. Tarekat ini tidak meninggalkan dunia akan tetapi sangat peduli pada persoalan dunia. Tarekat ini sering berperang melawan ketidakadilan. Tarekat ini juga memperkuatkan ekonomi anggotanya.
Agaknya tarekat ini sesuai dengan do’a Abu Bakar Shidiq RA seorang sahabat utama Rasulullah SAW. Bunyi doa Abu Bakar adalah, “Ya Allah! Jadikanlah dunia ini di tangan kami! Bukan di hati kami!”. Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin Ali As Sanusi Al Idrisi (bukan Muhammad Idris As Sanusi, raja Libya yang lalim). Tarekat ini menyebar luas sampai ke Mesir, Sudan, Chad, Maroko, Aljazair, dan Tunisia. Muhammad bin Ali As Sanusi Al Idrisi inipun kemudian menjadi raja di Cyrenaica, salah satu wilayah di Libya (keturunannya nantinya menjadi raja di seluruh Libya) di bawah Khilafah Turki Usmaniyah.
Beliaupun berhasil membuat sejahtera rakyat Cyrenaica. Sungguh sufi yang unik! Sufi yang tidak beruzlah meninggalkan dunia melainkan membangun dunia untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia, sambil tetap hidup zuhud. Umar Mukhtarpun menjadi anggota tarekat ini. Umar Mukhtar mengikuti Tarekat ini sampai ia meninggal. Ketika dewasa sambil melaksanakan ajaran-ajaran tarekat beliau pun menjadi pengajar ilmu tasawuf dan juga ilmu fiqh di sebuah sekolah Islam di Libya. (lagi…)

Mei 25, 2009 at 9:43 am Tinggalkan Komentar

Mengenal Muhammadiyah Lebih Dekat

Menilik kembali studi kemuhammadiyahan dari aspek historis, organisatoris dan ideologis.

Oleh: Nayif Fairuza*

Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah terus berkembang begitu pesatnya hingga kini. Hal tersebut bisa kita jumpai mulai dari berbagai kajian dari tingkat ranting hingga tingkat pusat, juga adanya berbagai amal usaha, lembaga-lembaga, ortom-ortom yang bernaung di bawah organisasi yang usianya hampir satu abad ini telah menyebar di seluruh pelosok tanah air.
Tidak begitu banyak yang bisa penulis sajikan dalam kesempatan kali ini, hanya selayang pandang Muhammadiyah yang ditinjau melalui aspek histori, organisasi dan ideologi.
Masih terbersit dalam ingatan penulis ketika masih sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogkarta. Semasa masih duduk di bangku tsanawiyah, tiga aspek inilah yang diajarkan dalam meteri kemuhammadiyah sebagai langkah awal untuk mengenal Muhammadiyah.

Aspek Historis
Muhammadiyah didirikan di kampung kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah sendiri dikenal sebagai salah satu gerakan yang menghembuskan nilai-nilai tajdid (pembaruan) pemikiran Islam juga bergerak di berbagai bidang kehidupan umat. Nama Muhammadiyah sendiri diambil dari nama Nabiyullah Muhammad –shalllahu ‘alaihi wasallam- dan ditambah dengan “ya’ nisbah”. Maksudnya secara perseorangan, siapa saja yang menjadi warga dan anggota Muhammadiyah dapat menyesuaikan dengan pribadi Nabi Muhammad –shallahu ‘alaihi wasallam-.
Dari beberapa sumber yang penulis dapatkan, ada beberapa hal yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah, antara lain: (a) sosok seorang Muhammad Darwis (nama kecil KH. Ahmad Dahlan) itu sendiri; sejak kecil beliau memang telah dikenal sebagai seorang yang cerdas dan mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Hal itu tercermin ketika beliau dengan tegas dan berani membenarkan arah kiblat yang tadinya menghadap kearah barat, juga ketika beliau sempat berguru kepada kyai-kyai yang ada di tanah Jawa untuk menuntut ilmu, (b) situasi negara Indonesia yang masih berada dalam masa pemerintahan kolonial Belanda; faktor yang satu ini juga tak bisa dipungkiri untuk menjadi salah satu faktor terpenting dalam kacamata historis kelahiran Muhammadiyah. Sudah sangat mafhum jika suatu penjajah masuk selain menjajah tentunya ingin memasukkan budaya-budaya mereka juga, tak terkecuali tujuan utama mereka yaitu gold (emas), glory (kemenangan) dan gospel (agama). Tidak hanya itu, perlu diketahui bersama bahwasanya mayoritas yang memperjuangan dalam memperebutkan kemerdekaan adalah umat Islam, dalam hal ini Muhammmadiyah sebagai organisasi Islam tentunya terdorong untuk mewujudkan hal tersebut, (c) realitas sosio-agama di Indonesia; jika kita mengkaji sifat dakwah Muhammadiyah tentunya akan kita temukan dua hal, yang pertama kedalam dan yang kedua keluar. Maksud dari yang pertama adalah dakwah kepada umat Islam itu sendiri. (lagi…)

Mei 15, 2009 at 4:44 pm Tinggalkan Komentar

Koalisi; Antara Kepentingan Elit Politik dan Rakyat

Oleh: Nabil Abdurahman

Secara etimologi koalisi berasal dari bahasa latin co-alescare, artinya tumbuh menjadi alat pengabung. (Ensiklopedi populer politik pembangunan pancasila edisi ke IV (1988:50). Maka koalisi merupakan persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai. (www.wikipedia.com).
Oleh karena itu, dalam praktis partai politik koalisi sangat akrab sekali. Dimana perbedaan idiologi, kultural atau atribut masing-masing partai diikat isu bersama persamaan persepsi terhadap masalah atau kepentingan. Karena dalam dunia politik yang sering berbicara adalah kepentingan; baik itu kepentingan politik murni yaitu untuk mendapatkan jabatan publik strategis dengan membagi-baginya di antara sesama peserta koalisi, maupun kepentingan lain seperti adanya musuh bersama. Bahkan sering kali kambing hitam itu menjadi kebutuhan dasar yang sengaja diciptakan sebagai alasan bersatu.
Dalam hal ini Syamsudin Haris menyatakan bahwa “secara teoritis, masalah koalisi sebenarnya hanya relevan dalam konteks sistem pemerintahan parlementer. Terciptanya koalisi sebenarnya diperuntukan hanya dalam menggalang dukungan dalam membentuk pemerintahan oleh partai pemenang pemilu, serta dibutuhkan untuk membangun dan memperkuat oposisi bagi partai-partai yang mempunyai kursi di parlemen namun tidak ikut memerintah”. (lagi…)

Mei 7, 2009 at 7:22 pm Tinggalkan Komentar

PLURALISME DAN EFEKTIFTAS BERAGAMA

  • Oleh: Ellen

    “…Upaya pencarian makna itu di tengah pesatnya kemajuan teknologi akan menjanjikan harapan (rising expection) atau malah menimbulkan frustasi (rising frustation) …” (John Naisbitt, Nana Naisbitt, Douglas Philips)

  • Terhitung 14 abad lamanya Islam masih tetap eksis di muka bumi dengan al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber pokok ajarannya. Namun apakah cara berpikir kita tentang Islam selama ini sudah benar? Dalam artian apakah ajaran Islam yang kita lakukan selama ini sudah merupakan representasi dari agama itu sendiri? Ataukah justru selama ini kita hanya melakukan ritual-ritual agama yang bisa jadi itupun hanya warisan dari orang tua. Tanpa kita tahu mengapa kita melakukan itu? Atau apa tujuan kita melakukan ritual tersebut?
    Selama ini kita dibiasakan untuk nrimo, menelan begitu saja ajaran Islam yang kita anggap baik. Orang tua atau guru agama kita hanya mengajarkan cara shalat, bagaimana berpuasa, bagaimana berzakat, bagaimana berhaji dan sebagainya, yang semuanya itu masih dalam tataran pengamalan ritual. Mereka (orang-orang yang disebut ahli agama) tidak atau belum menjelaskan inti dari agama itu sendiri. Mengapa kita lakukan itu? Atau memang terlalu sulit untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat abstrak.
    Sebagian kita yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan agama lebih mendalam, atau bagi orang yang biasa berpikir mendalam, menggunakan akalnya untuk berkontemplasi, mencari makna dari segala sesuatu, mungkin persoalan tentang efektifitas beragama ini tidak menjadi masalah, meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada diantara kita yang bersikap masabodoh mengenai hal ini. Akan tetapi bagaimana dengan orang awam yang pengetahuan agamanya pas-pasan, sebatas tahu cara shalat, mengaji, puasa, zakat, dan lain-lain? Atau orang-orang yang menjadikan Islam hanya sebagai formalitas identitas saja?
    Salahkah mereka? Sebenarnya ini bukan persoalan salah dan benar. Karena perbedaan latar belakang, pengalaman dan pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap cara berpikirnya mengenai agama. Justru saya berpikir karena kekonsistenan mereka inilah Islam bisa eksis hingga kini. Terlepas dari paham atau tidak dengan apa yang mereka lakukan. (lagi…)

    Mei 6, 2009 at 5:23 pm Tinggalkan Komentar

    BIDADARI SUCI

    Hmmm…aku jadi malu,
    karena kutahu jasadku masih terbelenggu
    kebodohan dan kenistaan
    Hanya kekosongan yang melanda

    Tapi, apalah hendak dikata…
    hatiku telanjur mengharap
    hadirnya bidadari suci
    yang mampu meredam gejolak nafsuku
    mendingin masalah, dan
    menjadi sahabat sejati

    Lucu…! Padahal aku hanyalah aku
    seorang yang tak pantas
    mendamping bidadari dalam khayalku

    Namun sekali lagi, apalah hendak dikata…
    hasrat itu begitu memuncak
    menghiasi dinding-dinding kalbuku

    Biarlah suara-suara sumbang bergema
    membisik di belakangku
    merespon ketidakadilan hasratku ini
    Apa peduliku…?

    Ku hanya ingin merengkuh bidadariku
    lalu kuraih jemarinya
    agar ia menuntunku menuju surga-Nya

    Namun, ku tak tahu dimana dia berada
    mungkinkah ini sebatas mimpi
    Atau…kan ada malaikat mengantarnya kemari?

    Kunanti kedatanganmu…bahe !!!

    By: Ibank Tawakal

    Mei 1, 2009 at 10:17 am Tinggalkan Komentar

    Turots*

    Oleh: Irham Hudaya

    Turots, ya… kata tersebut adalah kata yang menggambarkan warisan atau peninggalan umat Islam terdahulu. Jika kita mencoba berwisata ke dalamnya, kita dapat mengklasifikasikan turots kepada berbagai bentuk, bisa berupa artefak-artefak sejarah seperti bangunan-bangunan kuno, atau cerita turun temurun (dari mulut ke mulut/oral), dan bisa juga manuskrip-manuskrip. Yang kesemuanya itu mempresentasikan peradaban bersama kejayaan kaum muslimin di masa lalu.
    Tak dienyana lagi, semakin kita telusuri Turots ini, semakin kita terpukau bahkan ter ’wah-wah’ kan oleh khazanah keilmuan Islam klasik. Dari data yang ada, terdapat ratusan ribu manuskrip turots karya ulama kita dengan berbagai disiplin ilmu yang ‘terserak’ di seantero perpustakaan dunia. Bahkan Dr. Abd. Adzim Mahmud Dayb dalam muqoddimah al-Burhan fii Ushul al-Fiqh, memperkirakan terdapat sekitar 3 juta manuskrip yang bersumber dari ulama/ilmuan muslim masih tersimpan di rak-rak perpustakaan, jumlah ini tentunya, di luar manuskrip-manuskrip yang hilang, baik itu dibakar pada tragedi jatuhnya Baghdad (1258 M) oleh pasukan Khulaku Khan (Tatar), ataupun manuskrip-manuskrip yang belum terdeteksi atau yang tak dapat lagi dideteksi keberadaannya (hilang/musnah).
    Besarnya jumlah karya leluhur kita, tidak lepas dari kecintaan mereka terhadap ilmu, ditunjang dengan tingkat intelektual mereka yang memang bagus bahkan luar biasa. Hal ini pun terlihat pada tingkat produktivitas mereka. Seorang imam Syuyuthi, pengarang Tafsir Jalalain (1445-1505 M), sepanjang 60 th masa hayatnya, mampu menghasilkan lebih dari 300 judul buku, begitupun juga ulama lainnya. (lagi…)

    Mei 1, 2009 at 10:08 am Tinggalkan Komentar


    Alamat Kami

    International Islamic Call College P.O.Box 3369 Tripoli Libya Telp: - (+218) 0928726451 - (+218) 0927318249 E-mail: pcim_libya@yahoo.com

    Kalender

    Mei 2009
    S M S S R K J
    « Apr   Jun »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    INFO EMDE TERBARU

    Tulisan Terkini


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.