Peranan Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan

Oktober 31, 2009 at 9:18 am 1 komentar

    Oleh: Nabil Abdurahman

Dalam setiap sejarah bangsa-bangsa di dunia, terdapat beberapa titik kritis yang dianggap sebagai momentum sangat menentukan dalam perjalanannya. Pada titik-titik itu terjadi peristiwa yang sangat krusial bagi masa depan bangsa tersebut. Sehingga dapat dibayangkan, jika pada titik-titik itu, bukan terjadi peristiwa sebagaimana yang telah terjadi tersebut, maka keadaan bangsa itu pada masa sekarang sudah akan lain ceritanya.
Kemudian dalam umur manusia juga ada titik-titik yang menunjukan bahwa manusia tersebut mengalami perubahan, pertumbuhan dan berkembang, baik dari segi fisik, psikologis, maupun yang lainnya, yang secara umum biasanya terbagi ke dalam empat titik/fase: anak-anak, remaja, pemuda dan tua.
Dalam keterbatasan wawasan kesejarahan Indonesi, saya memberanikan diri memaparkan satu titik dari beberapa titik-titik penting dalam sejarah bangsa ini, dan dengan mengambil satu titik dari fase umur manusia, yaitu yang ada kaitannya dengan: Peranan pemuda indonesia dalam pergerakan kemerdekaan.
Ketika kita membicarakan sebuah tema yang menjadi objek pembicaraannya menghususkan suatu golongan masyarakat tertentu, maka kita dituntut untuk mengenal golongan tersebut terlebih dahulu, sebelum membicarakan hal-hal pokok lainnya yang ada kaitannya dengan objek tersebut, agar pembicaraannya bisa lebih fokus dan terarah. Dan tema yang ada kaitannya dengan pemuda biasanya banyak mendapat sorotan yang signifikan dari para pemerhati atau kalangan luas, hal ini dikarenakan:
– Hasan al-Banna mengatakan: “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”.
– Bung karno berkata: “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia
– Pepatah arab mengatakan: “Syubanul yaom, rijalul ghad” artinya: pemuda/remaja dimasa sekarang ini pemimpin dimasa depan. “Inna fi yadi syubban amrol ummah, wa fi aqdamihim hayataha” artinya: sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya suatu umat/masyarakat.
Dengan ungkapan-ungkapan di atas, menunjukan bahwa pemuda merupakan sumber potensi yang dapat menciptakan keadaan yang lebih baik melalui berbagai kekuatan yang dimilikinya baik dari segi fisik, maupun pemikirannya dalam membangun suatu peradaban masyarakat atau bangsa.

Definisi Pemuda
Banyak yang mengatakan pemuda bukan dilihat dari usianya melainkan dari semangatnya. Namun ada juga yang tidak sepaham dengan pernyataan tersebut. Oleh karenanya mari kita lihat definisi pemuda tersebut dari dua segi:

a. Berdasarkan usia

Menurut WHO pemuda digolongkan berdasarkan usia, yakni 10-24 tahun. Sedangkan remaja atau adolescence berada pada rentang usia 10-19 tahun.
– National Highway Traffic Administration memberikan batasan pemuda berusia antara 15 sampai dengan 29 tahun.
– Sedangkan United Nations General Assembly dan World Bank melihat pemuda adalah individu yang berusia antara 15 sampai 24 tahun.
– sedangkan Government of Tasmania melihat bahwa batasan pemuda berkisar antara 20 sampai 25 tahun
Dari kumpulan definisi di atas Secara umum pemuda digolongkan berdasarkan rentang usia antara 10 sampai 30 tahun.
Untuk Indonesia sendiri beberapa kalangan berbeda pendapat dalam menentukan batasan pemuda dari segi umur:
– KNPI menyatakan bahwa batasannya yaitu 40 tahun ke bawah
– DEPDIKNAS menetapkan bahwa batasannya dari umur 35 ke bawah.
– Menteri P dan K RI No. 0323/V/1978, menetapkan bahwa pemuda adalah orang di luar sekolah maupun perguruan tinggi dengan usia antara 15-30 tahun.

b. Berdasarkan watak/sifat

Al Quran mendefinisikan pemuda dari segi fitrahnya dalam ungkapan sifat dan sikap :
1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak.
Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini , namanya Ibrahim.” (QS.Al¬-Anbiya, 21:59-60).
2. memiliki standar moralitas (iman), bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dengan perkataan.
Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (7 orang pemuda yang mengasingkan diri dalam gua untuk menyelematkan iman. Mereka menolak perintah raja Dakianus yang mengharuskan rakyatnya menyembah patung yang disembahnya dengan ancaman hukuman mati, semua rakyat menyerah kecuali 7 orang pemuda tadi.).“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka; dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri” (QS.18: 13-14).
3. Tidak gampang berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai.
Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
Secara fitrah inilah pemuda, manusia berkarakter khas yang berbeda dengan golongan lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Pemuda
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al quran, secara fitrah pemuda memiliki sifat-sifat seperti berani, pantang mundur, dan memiliki standar moralitas keimanan. Pemuda memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Kelebihan pemuda secara umum terlihat dari :
1. kelebihan dari segi kekuatan fisik dan psikologi berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan fisiknya, bahkan seorang pemuda yang sedang jatuh hati dia akan mampu mendaki gunung yang tinggi atau menuruni ngarai terjal sekalipun, karena pada saat itulah dia memiliki kekuatan fisik yang primadan energik
2. kekuatan akal berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan akalnya. Kekuatan yang membatasi antara ketidaktahuan dengan kepikunan diiringi dengan spirit idealisme dan eksplorasi pemaknaan dalam lingkup yang luas
3. kekuatan semangat berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan semangatnya. Semangat untuk bergerak, berubah, hingga memberi kontribusi bagi integritas diri serta ruang dan waktu yang meliputi dirinya.
4. masa muda adalah masa subur idealisme. Banyak peristiwa-peirstiwa besar dalam sejarah adalah karena idealisme masa muda. Semangat kemerdekaan yang telah mengantarkan negeri ini bebas dari penjajahan adalah karena gelora idealisme anak-anak muda masa itu.
5. masa muda adalah masa yang paling efektif untuk menabung amal untuk hari tua. Sebagaimana Nabi saw. menyebutkan lima hal yang harus diperhatikan oleh manusia sebelum lima hal lainnya, dan salah satunya: “Syabaabaka qabla haramika (Masa mudamu sebelum masa tuamu).”
Di sisi lain pemuda memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling mencolok adalah mudah emosional, tempramental, senang bergerombol.
Maka dari itu, secara umum bisa kita lihat bahwa Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan sehingga dikatakan bahwa pemuda adalah agent of change. Hal inilah yang menjadi peran paling penting dari pemuda.
Hal ini jika kita korelasikan dengan sejarah bangsa kita Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan di negri ini. Dimulai dari kebangkitan nasional yang menandakan mulai tumbuhnya rasa nasionalisme, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, tumbangnya orla, lahir dan tumbangnya orde baru sampai lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan.
Sehingga Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, dalam Java In A Time Of Revolution, Occupation And Resisten (1944-1946) meyakini bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ia mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.”
Untuk itu pada kesempatan ini saya akan membahas peranan pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, yang secara umum ditandai oleh dua fase penting yaitu fase berdirinya organisasi-organisasi yang bersifat nasionalis antara tahun 1905-1927 dan fase dari peristiwa sumpah pemuda tahun 1928 sampai diproklamasikannya kemerdekaan republik Indonesia tahun 1945.

Fase pertama dari tahun 1905-1927

Apabila kita menengok fakta-fakta sejarah Indonesia, tak dapat di pungkiri bahwa pergerakan kemerdekaan indonesia modern melawan kolonialisme digerakan dan dipelopori oleh kaum muda yang membentuk beberapa organisasi pergerakan yang bersifat nasionalis.
Hal ini bisa kita lihat bahwa umur-umur para tokoh pergerakan nasional tersebut berkisar antara 20-30 tahunan. Kartini sewaktu menyuarakan Cri De Coueurnya (Jeritan Hati Nuraninya) pada tahun 1900-an melawan feodalisme dan kolonialisme, berusia 20 tahunan. Begitu juga Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo beserta kawan-kawannya ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 mereka semua berusia 20-25 tahunan. Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto ketika memimpin organisasi tersebut berusia 25 tahun. Soebadio Sastrosatomo, Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moeward ketika memaksa sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia berusia 25-30 tahunan, dan Sultan syahri sendiri yang ikut menggerakan pemuda pada waktu itu berusia 36 tahun.
Bangkitnya pergerakan pemuda pada fase ini, tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang secara umum terbagi ke dalam dua faktor:
1. Faktor eksternal (luar negri)
– Faktor ini berupa kejadian-kejadian di luar Negeri yang mengilhami cita-cita angkatan muda indonesia pada waktu itu, seperti: Revolusi “Young Turks” di Turki, gerakan pembaharuan di dunia islam, gerakan kebangkitan nasionalisme Arab, India, Tiongkok, Filiphina, kemenangan jepang dalam peperangan melawan Czaris Rusia, dan sebagainya.
– Masuknya filsafat nasionalisme yang berkembang di eropa, yang di bawa oleh para pelajar yang belajar di eropa pada waktu itu.
2. Faktor internal (dalam negri)
– Faktor ini terlihat dari kondisi tanah air kita yang masih dalam cengkraman kolonialisme Hindia-Belanda yang dengan peralatan feodalisme pribumi dapat leluasa menjalankan dominasi politik, eksploitasi politik dan ekonomi serta infiltrasi kebudayaan.
– Juga merupakan salah satu dampak politik etis sejak 1900, khususnya bidang pendidikan, yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli dan di kembangkan oleh van deventer, yang membuka timbulnya lapisan inteligensia muda di berbagai bidang ilmu pengetahuan
Berikut ini adalah daftar beberapa organisasi perkumpulan pemuda di era masa pergerakan nasional dari tahun 1905-1927 tersebut:
1. 16 Oktober 1905. Syarikat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Sondokan, Solo, oleh Haji Samanhudi, Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Haryosumarto, Sukir dan Martodikoro.
2. 20 Mei 1908. Budi Utomo berdiri atas prakarsa Dr. sutomo yang pada awal mula berdirinya merupakan organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional, dan tanggal berdirinya organisasi ini di tetapkan oleh pemerintah sebagai hari kebangkitan nasional..
3. Tahun 1909. Tirtoadisuryo mendirikan Sarekat Dagang Islamiah (SDI) di Batavia. Kemudian pada tahun selanjutnya dia membuka cabang di bogor.
4. Tahun 1911. Ambon’s Bond didirikan oleh pegawai negeri di Ambonia, untuk memajukan pengajaran dan penghidupan rakyat Ambon.
5. 10 September 1912. Sampai dengan awal tahun 1912, Syarikat Dagang Islam masih memakai anggaran dasar yang lama yang di buat oleh Haji Samanhudi. Karena beliau tidak puas atas anggaran dasar itu, maka beliau menugaskan kepada Cokroaminoto di Surabaya yang baru masuk Syarikat Islam, supaya membuat anggaran dasar yang baru yang disahkan di depan Notaris pada tanggal 10 September 1912. Sehingga Syarikat Dagang Islam (SDI) berganti nama menjadi Syarikat Islam (SI).
6. 25 Desember 1912. Partai Hindia atau IP (Indische Partij) didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudi di Bandung, dan merupakan organisasi campuran orang Indo dan bumiputra. IP menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu, setelah ia bekerjasama dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantoro. Douwes Dekker menjadi ketuanya, dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) menjadi anggota pengurus. Indische Partij terbuka buat semua golongan bangsa (bangsa Indonesia, bangsa Eropa yang terus tinggal disini, Belanda peranakan, peranakan Tionghoa dan sebagainya), yang merasa dirinya seorang “indier”.
7. Tahun 1914. Jong Pasundan berdiri di Jakarta. Anggaran dasarnya adalah secorak dengan Budi Utomo, tetapi ditujukan untuk daerah Pasundan saja. Pasundan (Paguyuban Pasundan) didirikan untuk mempersatukan “bangsa Sunda”.
8. 7 Maret 1915. Tri Koro Dharmo didirikan di Jakarta di bawah pimpinan dr. Satiman untuk mempersatukan pelajar-pelajar dari pulau Jawa, kemudian bernama “Jong Java”. Semboyan : “Sakti, Budi, Bakti”. Yang menjadi anggota kebanyakan murid-murid sekolah menengah asal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
9. 9 Desember 1917. Mengikuti jejak murid-murid Jawa dari sekolah menengah, murid-murid Sumatra mendirikan Jong Sumatranen Bond di Jakarta. Maksud tujuannya antara lain adalah memperkokoh hubungan ikatan di antara murid-murid asal dari Sumatra dan menanam keinsyafan bahwa mereka kelak akan menjadi pemimpin, dan membangunkan perhatian dan mempelajari kebudayaan Sumatra. Di antara pemimpin-pemimpinnya terdiri Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin.
10. September 1926. Berdirinya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) setelah selesai Kongres Pemuda I pada tahun tersebut. PPPI merupakan wadah pemuda nasionalis radikal non kedaerahan. Tujuan utama PPPI adalah menyatukan perkumpulan-perkumpulam pemuda yang telah ada, yang memiliki latar belakang berbeda, sehingga mempunyai satu visi. Tokoh-tokohnya adalah Sigit Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodipoetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soemanang, dan Amir Sjarifudin. Atas prakarsa PPPI kongres ke II diadakan.
11. 4 Juli 1927. Sukarno dan Algemeene Studie Clubnya memprakarsai pembentukan partai Perserikatan Nasional Indonesia, dengan Sukarno sebagai ketuanya. PNI berpolitik non-cooperatie, berdasar kebangsaan Indonesia, menentang Kapitalisme dan Imperialisme, dan bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Di dalam memimpin partainya Ir. Sukarno di bantu Gatot Mangkupraja, Maskun, Supriadinata, Mr. Iskaq Cokroadisuryo, dr. Cipto Mangunkusumo, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto dan 4 orang lainnya.
12. Tahun 1927. pada tahun ini didirikan Perkumpulan pemuda dan pemudi di Bandung, di mana kemudian organisasi ini diubah menjadi Pemuda Indonesia untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia bagi yang perempuan.

Titik Kritis/Sorotan Utama
Namun dari sekian banyak organisasi-organisasi tersebut yang menjadi sorotan utama para pemerhati sejarah adalah organisasi budi utomo dan Serikat Islam yang asal-mulanya bernama Serikat Dagang Islam. Hal ini dikarenakan beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa berdiriya Budi Utomo menunjukan awal bangkitnya rasa nasional, yang kemudian oleh pemerintah ditetapkan tanggal berdirinya sebagai hari kebangkitan nasional. Di sisi lain SI juga banyak mendapat sorotan dari beberapa ahli sejarah baik lokal seperti: H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi, Anwar Harjono, Ahmad Mansyur Suryanegara, dan Adabi Darban, yang menganggap bahwa kelahiran SI pantas dijadikan tolak ukur awal dalam pergerakan Indonesia selanjutnya, maupun internasional seperti: APE Korver, Van der Wal dan George McTurnan Kahin yang menceritakan dampak berdirinya organisasi ini terhadap pemerintahan kolonial.
Agar kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi para pejuangnya, tidak salah dalam menanggapi perihal tersebut di atas, ada baiknya kita membahas sedikit definisi nasionalisme itu sendiri kemudian membuat perbandingan dari kedua organisasi tersebut. Sehingga dengan hal itu kita dapat mengambil kesimpulan dengan lebih proporsional.
Definisi nasionalisme seperti yang di kemukakan oleh Benedict Anderson misalnya adalah merupakan sebuah institusi imajinatif yang mengikat beberapa kelompok masyarakat yang kerap tidak saling mengenal atas dasar persaudaraan, yang dari sana kemudian terciptalah bayangan tentang sebuah kedaulatan dengan sebuah batasan teritorial tertentu. (Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso Editions and NLB), 1983).
Pendapat tersebut senada dengan pandangan Montserrat Guibernau dan John Rex, juga “bapak teori nasionalisme” Ernest Rennan, bahwa dengan dilandasi oleh semangat untuk mengedepankan hak-hak masyarakat pada wilayah politik tertentu, nasionalisme sejatinya merupakan “kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan (trans-etnis)”. (Montserrat Guibernau dan John Rex (eds.), The Ethnicity Reader Nationalism, Multiculturalism and Migrations (Cambridge: Polity Press, 1997)).
Jadi suatu pergerakan masyarakat bisa di kategorikan nasionalis, apabila di dalamnya memiliki atau memunculkan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Penguatan Identitas kebersamaan dan persamaan serta Semangat Perjuangan melawan Sistem Kolonial.
2. Persoalan Pembebasan & Emansipasi.
3. Komitmen terhadap Persaudaraan dan Solidaritas atau tolong-menolong.
4. Semangat Berusahan Secara Mandiri & Berkeadilan.
5. mengedepankan hak-hak masyarakat umum daripada golongan atau etnis.

Setelah itu, mari kita melihat perbandingan antara organisasi Budi utomo dan Sarikat Islam dari tiga sudut, yang menurut hemat saya sangat penting untuk di ketahui, yaitu:

A. Sifat, tujuan di dirikan dan dasar perjuangannya
1) Budi Otomo
– Tujuan Budi Utomo adalah melakukan pengajaran bagi orang Jawa dan berusaha untuk membangkitkan kembali budaya Jawa dan Madura, hal ini bisa terlihat dari hasil keputusan Kongres pertama budi utomo yang diadakan di Yogyakarta pada bulan oktober 1908 yaitu :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik.
2. Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan.
3. Terbatas wilayah jawa dan madura.
4. Mengangkat R.T. Tirtokusumo yang menjabat sebagai Bupati Karanganyar sebagai ketua.
– Kemudian dalam masa perkembangannya Budi Utomo mengalami beberapa pergeseran visi dan misinya, hal ini dikarenakan:
1. Kelurga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial daripada rakyat.
2. Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
3. Bupati-bupati lebih suka mendirikan organisasi masing-masing.
4. Bahasa belanda lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
5. pengaruh golongan priyayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan yang nasionalis.
– Karena keadaan itulah menyebabkan kemudian beberapa tokoh muda memilih keluar dari keanggotaan Budi Utomo, seperti: Tjipto Mangunkusumo, Soewardi Soeryaningrat yang keluar dari BO dan bersama-sama Douwes Dekker membentuk organisasi baru, yaitu Indische Partij.
– Sedangkan awal mula BU terjun dalam kegiatan politik terjadi satu tahun setelah terjadinya Perang dunia I yaitu pada tahun 1915. Pada saat itu BU turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan dengan mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk Indiandsche Militie (Milisi untuk Bumiputera).
2) Serikat Islam
– Serikat Islam ketika masih bernama Sarikat Dagang Islam mempunyai tujuan melindungi hak-hak pedagang pribumi dari monopoli pedagang-pedagang besar asing dan keturunan yang di backing kolonial dan membantu masyarakat yang kekurangan.
– Namun setelah berganti nama menjadi Sarikat Islam pada tahun 1912 organisasi ini mempunyai tujuan tidak hanya mencakup bidang ekonomi tetapi bidang politik dengan menekankan pentingnya persatuan, juga mengembangkan sentimen dan solidaritas anti-kolonialisme asing demi mencapai kemajuan rakyat yang nyata baik rohani maupun jasmani dengan jalan persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong diantara sesama muslim, juga menghilangkan anggapan yang sangat sesat tentang ajaran islam.
– pada tahun 1916 di Bandung pada saat kongres Nasional Central Sarekat Islam tersebut, HOS Cokroaminoto memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela dan membangun Nusantara. Selain itu, beliau mendeklarasikan Pemerintahan sendiri untuk bangsa Indonesia dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk nusantara. Sebagai bangsa timur, beliau lebih bangga menyebut Indonesia dengan ‘Hindia Timur’.

B. Keanggotaannya
1) Budi Otomo. Keaanggotaannya terbatas hanya pulau jawa dan Madura, dan hanya menerima keanggotaan dari suku jawa dan Madura. Pada tahun kedua dari berdirinya, Budi Utomo memiliki sekitar 40 cabang yang tersebar di Yogyakarta, Madura, Bandung, Surabaya, Jakarta. (http://www.e-dukasi.net. Situs ini dikembangkan Pustekkom sejak 2003).
2) Sarikat Islam. Sarekat Islam dalam periode awalnya (1912-1916). Sudah mencapai sekitar 860.000 terkait dengan mereka yang hadir dalam Kongres Nasional pertama pada tahun 1916, dan mempunyai cabang yang mencapai 180 dan tersebar di seluruh Indonesia sepeti: Aceh, Palembang, Banten, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, hingga Donggala, dll. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1994)).

C. Pengaruh keberadaannya terhadap kolonial belanda
1) Budi Utomo.
Organisasi ini dianggap tidak membahayakan pemerintahan kolonial, hal ini dikarenakan:
– Tidak memunculkan kegiatan yang berbau politik atau anti kolonialis, sehingga dengan atas dasar itulah pemerintah kolonial dengan tanpa susah payah mengesahkan Budi Utomo sebaga badan hukum yang sah.
– Anggoata Budi Utomo mayoritasnya terdiri dari kaum priyayi dan pegawai negeri kolonial, hal ini menyebabkan tujuan organisasi lebih diarahkan untuk kepentingan kolonial dan kaum priyayi, sehingga kepentingan rakyat banyak agak terabaikan.
– Disamping itu Ketua Umum BU yang juga sebagai bupati lebih memperhatikan reaksi pemerintah kolonial daripada reaksi anggota atau rakyat banyak. Dengan keadaan seperti ini tentunya kolonial tidak merasa terganggu dengan pergeraknnya, justru sebaliknya.
3) Sarikat Islam
Organisasi ini dari mulai berdirinya –seperti yang di katakan APE Korver dan Van der Wal- sudah membuat kepanikan yang yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pemerintahan kolonial. (A.P.E Korver, Sarekat Islam Gerakan ratu Adil? (Jakarta: Grafiti Press, 1985)). Hal ini disebabkan:
– Organisasi ini mampu menarik perhatian hampir semua golongan tidak saja kalangan Islam puritan, kaum pedagang dan rakyat jelata, namun pula orang abangan, para priyayi progresif dan bangsawan. Sebuah perkumpulan yang bersifat lintas-etnis karena tidak saja menggugah dan meningkatkan pengharapan orang Jawa, Madura, Pasundan, maupun Betawi, namun pula beragam suku mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sunda Kecil hingga Sulawesi.
– Sudah memunculkan rasa persaudaraan, gotong-royong dan tolong menolong dalam mengangkat harkat martabat kaum pribumi dari kaum pendatang.
– Berkumpulahnya tokoh-tokoh besar pergerakan (yang belakangan kemudian menjadi ideolog dari berbagai macam keyakinan politik) seperti Samanhudi, R HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdoel Moeis, KH Ahmad Dahlan, sampai dr. Sukiman, Kartosoewiryo, Ki Hajar Dewantara, Semaoen, Darsono. Semuanya mengusung sebuah keyakinan akan pembebasan, persatuan, perlawanan, dan kemandirian atas dasar identitas dan keyakinan bersama dalam SI.
– Timbulnya reaksi dari Gubernur Jenderal Idenburg dan aparatnya dengan meningkat kewaspadaan, dan pengawasan serta penelitian sebab kemunculan dan penyebaran organisasi SI tersebut.
Setelah kita memperhatikan perbebdaan dari sifat, tujuan, keanggotaan dan pengaruh masing-masing kedua organisasi tersebut, maka saya melihat bahwa organisai yang lebih dominan masuk kategori hakekat kebangsaan dan nasionalisme adalah Sarikat Islam. Hal ini seiring dengan pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis dan diamini oleh Guru Besar Sejarah UNPAD Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjama’ah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya. (George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (Cornell University Press, Itacha, 1952)

Fase kedua dari tahun 1928-1945

Fase ini di mulai dari di ikrarkannya sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 di Batavia, sebagai reaksi atas menjamurnya organisasi-organisai yang bersifat kedaerahan dan statemen yang di lontarkan Hendrikus Colijn -mantan Menteri Urusan Daerah Jajahan, kemudian Perdana Menteri Belanda, juga bekas Veteran perang Aceh dan ajudan Gubernur Jenderal van Heutz. Sekitar tahun 1927–1928-, yang ditulis dalam sebuah pamphlet, yang menyebut Kesatuan Indonesia sebagai suatu konsep kosong. Katanya, masing-masing pulau dan daerah Indonesia ini adalah etnis yang terpisah-pisah sehingga masa depan jajahan ini tak mungkin tanpa dibagi dalam wilayah-wilayah. Namun statemen tersebut di bantah oleh para pemuda dengan diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Pada saat itu juga untuk pertamakalinya diperdengarkan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman. Peristiwa ini akhirnya kita kenang sebagai hari Sumpah Pemuda.
Pada tahun-tahun berikutnya organisasi-organisasi yang tumbuh pada fase pertama banyak yang di fusi, namun setelah jepang menjajah Indonesia yang di mulai akhir tahun 1942 semua organisasi-organisi di larang, akhirnya banyak para pemuda yang memilih jalan under ground dan masuk barisan-barisan muda yang di bentuk oleh jepang, walaupun begitu semangat kemerdekaan tetap menggelora di tubuh mereka. Inilah beberapa pergerakan pemuda pada fase kedua ini:
1. 28 Desember 1930 – 2 Januari 1931. Kongres Indonesia Muda di Solo. Disahkan berdirinya Indonesia Muda (fusi dari Jong Java, Pemuda Indonesia, Jong Celebes dan Pemuda Sumatra yang telah membubarkan diri).
2. 22 April 1943. Jepang membentuk Heiho (pembantu prajurit). Heiho semula merupakan tenaga pekerja kasar, tetapi kemudian dikerahkan untuk tugas-tugas bersenjata dan merupakan barisan pembantu tentara, yang menjadi bagian langsung dari kesatuan angkatan darat dan angkatan laut. Anggota Heiho adalah pemuda-pemuda yang berumur antara 18-30 tahun.
3. 29 April 1943. Jepang memobilisasi para pemuda untuk digunakan dalam angkatan bersenjata Jepang dan digunakan dalam organisasi pertahanan sipil. Kemudian dibentuklah Seinendan (barisan pemuda yang berumur 14-22 tahun) dan Keibodan (barisan pembantu polisi). Para anggota Seinendan dan Keibodan itu mendapat latihan kemiliteran.
4. 3 Oktober 1943. Pada tanggal ini di betuknya pasukan Pembela Tanah Air (PETA) atas usulan Gatot Mangkupraja. Manfaat yang dapat di petik dari pembentukan tentara PETA adalah timbulnya inspirasi bagi anggota PETA, sebab dengan latihan-latihan militer yang berat, memperkuat rasa percaya diri sendiri untuk menghadapi kekuatan musuh yang lebih besar. Selain itu, juga tumbuh perasaan harga diri yang sepadan dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat dan kesempatan ini harus direalisasikan dalam bentuk solidaritas bersama guna menciptakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Para pemuda yang mendaftarkan untuk menjadi anggota PETA mendapat latihan di Bogor. Pemuda-pemuda Islam yang menjadi anggota PETA dan mengikuti latihan di Bogor adalah Sudirman, Mulyadi, Joyomartono, Aruji Kartawinata, Kiai Khotib, Iskandar Idris, Iskandar Sulaiman, Kiai Basuni, Mr. Kasman Singodimejo, Yunus Anis, Kiai Idris, Kiai Haji Mochfuda, Kiai Kholiq Hasyim, Kiai Sami’un dan sebagainya.
5. Juni 1944. Sikap permusuhan para pemuda terpelajar meningkat, juga keadaan Jepang yang semakin terdesak oleh Sekutu, mendorong timbulnya organisasi pemuda baru, yang dinamai Angkatan Muda Indonesia (AMI). Mula-mula organisasi ini didirikan atas inisiatif Jepang, tetapi kemudian tumbuh menjadi organisasi pemuda yang anti Jepang. AMI kemudian berubah menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI).
6. Desember 1944. Atas desakan Masyumi, Jepang memberikan dan mengizinkan pembentukan Hizbullah, yang direncanakan sebagai cadangan PETA. Sebagai tambahan, suatu pasukan polisi pembantu yang berkekuatan satu juta orang, yang di sebut Korps Kewaspadaan, juga didirikan di daerah-daerah pedesaan Jawa.
7. 16 Mei 1945. Kongres Pemuda seluruh Jawa di Bandung, yang disponsori oleh Angkatan Muda Indonesia. Kongres itu dihadiri oleh lebih dari 100 pemuda terdiri dari utusan-utusan pemuda, pelajar dan mahasiswa seluruh Jawa, antara lain Jamal Ali, Chairul Saleh, Anwar Cokroaminoto dan Harsono Cokroaminoto serta mahasiswa-mahasiswa Ika Daigaku di Jakarta. Dalam kongres itu, dianjurkan agar supaya para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan dirinya untuk pelaksanaan proklamasi kemerdekaan, bukan sebagai hadiah Jepang.
8. 15 Juni 1945. Sekelompok pemuda mendirikan Gerakan Angkatan Baru Indonesia, yang berpusat di Menteng 31, Jakarta. Ketua organisasi itu adalah BM Diah dan anggotanya yaitu Sukarni, Sudiro, Chaerul Saleh, Syarif Thayeb, Wikana, Supeno, Asmara Hadi dan P. Gultom.
Puncak dari pergerakan-pergerakan pemuda tersebut terjadi ketika pada tanggal 14 dan 16 Agustus 1945, Nagasaki dan Hiroshima di bom atom oleh tentara sekutu yang menyebabakan Jepang mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II, maka terjadi kevakuaman kekuasaan di tanah-tanah jajahan pemerintahan fasis Jepang termasuk Indonesia, sementara tentara Sekutu belum datang. Kevakuman tersebut mengilhami para pemuda Menteng 31 dan barisan pelopor yang di dukung sultan syahrir untuk memaksa Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan membawa keduanya secara paksa ke rengas dengklok pada tanggal 16 Agustus 1945, diantara pemuda tersebut adalah: Soebadio Sastrosatomo, Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moewardi. Akhirnya berkat inisiatif dan keberanian dari kaum muda, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat dibacakan pada tanggal 17 agustus l945 di jln Pegangsaan Timur no:56 pada jam 10.00 WIB. Inisiatif ini juga timbul didasari pada patriotisme bahwa kemerdekaan tidaklah boleh sebagai pemberian dari Jepang atau hadiah dari Sekutu, tapi berkat kepemimpinan dari para pejuang Indonesia.

Titik Kritis/Sorotan Utama
Dari fase kedua ini yang menjadi titik kritis adalah peristiwa sumpah pemuda. Hal ini karena peristiwa tersebut mengandung beberapa esensi yang sangat berarti bagi pergerakan nasional indonesia menuju kemerdekaannya. Diantara esensi-esensi tersebut:
– Merupakan tekad sosial-kultural dan politis untuk menyatukan persepsi dalam rangka membebaskan bangsa dan tanah air Indonesia dari penjajahan serta mempertahankan kedaulatannya.
– Menunjukan bahwa di atas tanah air yang berbangsa dan berbahasa Indonesia tak selayaknya ada penjajahan dalam bentuk apapun dan dilakukan siapapun.
– Timbulnya kekuatan kultural yang membongkar kebekuan primodialisme, artinya, ketika membicarakan persoalan bangsa tidak ada lagi jong java, jong ambon, jong Celebes, atau jong borneo, yang ada hanya kaum muda Indonesia yang memiliki satu tanah air, bangsa dan bahasa, yakni Indonesia. Ini berarti tali ikatan primodial harus di lepas demi cita-cita merebut kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia.
– Bahwa dengan mengakuinya bahasa dan bangsa satu yaitu Indonesia, tidak berarti bahwa keanekaragaman bahasa daerah harus di lebur, budaya dan keragaman suku bangsa dihapuskan, akan tetapi keanekaragaman bahasa daerah, budaya dan suku bangsa tsb, secara otomatis menjadi aset budaya bangsa yang harus di pelihara, dihormati, di kembangkan, namun dengan atas nama Indonesia. Artinya setiap suku bangsa yang mempunyai budaya, bahasa lokal/daerah harus meyakini bahwa budaya dan bahasa lokal tersebut merupakan milik suku bangsa yang telah mencipta, mengembangkan dan memeliharanya, juga milik bangsa Indonesia keseluruhan, yang berarti juga milik suku bangsa lain yang tidak menciptanya, karena suku-suku lain tersebut merupakan bagian dari bangsa indonesia. Hal ini berarti juga bahwa setiap suku bangsa yang telah menyatakan kesatuannya dalam satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air harus menghormati perbedaan suku, bahasa, budaya lokal atasa nama Indonesia.
Disamping mengandung esensi tersebut di atas, ada hal lain yang menjadikan peristiwa Sumpah Pemuda ini sangat berarti bagi pergerakan nasional Indonesia, dan ini mungkin banyak yang kurang memperhatikannya, yaitu isi uraian pidato yang menulis rumusan Sumpah Pemuda tersebut, yaitu Moehammad Yamin, tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Kelima faktor tersebut kiranya bukan hanya bisa memperkuat persatuan indinesia pada waktu itu, tetapi harus menjadi faktor pemersatu bahkan kemajuan bangsa Indonesia di masa-masa sekarang dan selanjutnya. Hal ini dikarenakan:
1. Sejarah. Dengan memepelajari sejarah dimasa lampau maka kita dapat mengambil manfaat dalam merencanaan suatu konsep yang lebih baik untuk dimasa yang akan datang. Dalam hal ini Allah Swt. Berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal…”(QS Yusuf ayat 111). Dalam suatu hadist Rasulullah bersabda: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”.
Dan diantara manfaat mempelajari sejarah adaah:
– Memberikan pelajaran (edukasi) dan pengalaman-pengalaman kepada generasi selanjutnya.
– Memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu yang baru di masa yang akan datang, karena sebuah inspirasi akan muncul ketika ada stimulus, dan salah satu faktor yang bias menstimulus inspirasi adalah sejarah.
– Membawa kita berekreasi ke alam lain, juga bisa memberikan hiburan yang menyenangkan.
– memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan secara utuh.
– Memberikan peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa.
2. Bahasa. Salah satu manfaat terbesar belajar bahasa adalah untuk keperluan berkomunikasi. Kehidupan manusia tidak mungkin dilepaskan dari kegiatan berkomunikasi. Apa pun bidang kegiatan yang akan diterjuni seseorang, pastilah dia tidak bisa menghindar untuk tidak berkomunikasi. Salah satu kemampuan penting berkomunikasi adalah menampakkan pikiran. Agar pikiran yang ada di dalam benak seseorang menjadi jelas dan dapat dipahami seseorang, pikiran perlu ditampakkan dengan bantuan kata-kata. Memang, gagasan atau ide dapat ditampakkan tidak hanya lewat kata-kata. Gagasan dapat ditunjukkan lewat nyanyian (lagu), gambar atau lukisan, patung, konstruksi bangunan, dan banyak lagi yang lain. Namun, pemahaman terhadap sebuah gagasan baru akan sangat efektif apabila gagasan tersebut dapat ditampakkan lewat kata-kata atau dibahasakan secara tertulis.
Bahasa juga merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa dipengaruhi nilai tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut. Bahasa Indonesia misalnya, banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Qur’an) contohnya kata ibarat yang kata dasarnya dari ibrah ini yang bermakna pelajaran dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh budaya islami.
3. Hukum Adat. Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Pendapat lain terkait bentuk dari hukum adat, selain hukum tidak tertulis, ada juga hukum tertulis. Hukum tertulis ini secara lebih detil terdiri dari hukum ada yang tercatat (beschreven), seperti yang dituliskan oleh para penulis sarjana hukum yang cukup terkenal di Indonesia, dan hukum adat yang didokumentasikan (gedocumenteerch) seperti dokumentasi awig-awig di Bali.
Seorang pakar Belanda, Cornelis van Vollenhoven adalah yang pertama membagi wilayah Nusantara menurut hukum adat bisa dibagi menjadi 23 lingkungan adat berikut: mulai dari Aceh sampai papua dan mulai dari jawa sampai dayak.
Hukum Adat berbeda di tiap daerah karena pengaruh:
– Agama : Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya. Misalnya : di Pulau Jawa dan Bali dipengaruhi agama Hindu, Di Aceh dipengaruhi Agama Islam, Di Ambon dan Maluku dipengaruhi agama Kristen.
– Kerajaan seperti antara lain: Sriwijaya, Airlangga, Majapahit.
– Masuknya bangsa-bangsa Arab, China, Eropa.
4. Pendidikan. Pendidikan merupakan satu usaha pengembangan potensi individu-individu suatu masyarakat secara menyeluruh dan bersepadu untuk mewujudkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelektual, rohani, emosi, dan jasmani. Oleh karena itu pendidikan memiliki andil yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa, hal ini bisa kita lihat dari manfaatnya:
– Melatih kemampuan akademis setiap individu.
– Menggembleng dan memperkuat mental, fisik dan disiplin.
– Memperkenalkan tanggung jawab.
– Membangun jiwa sosial dan jaringan pertemanan.
– Sebagai identitas diri.
– Sarana mengembangkan diri dan berkreativitas.
– Sarana memperdalam agama, norma-norma dan etika.
5. Kemauan. Setiap orang tentu mempunyai keinginan dalam hidup. Sebagai manusia biasa, seseorang dapat saja memiliki keinginan bahkan memiliki beberapa keinginan (tidak hanya satu). Keinginan dapat berbentuk bermacam-macam, berbagai fantasi manusia juga dapat menjadi sebuah keinginan. Namun demikian keinginan tersebut dapat dibedakan menjadi keinginan yang realistis atau tidak realistis -meski terkadang banyak orang yang menginginkan keinginan yang tidak realistis dapat terealisasi-. Setiap orang yang mempunyai keinginan tentu harus siap dengan berbagai dampak atau konsekuensi logis dari apa yang diinginkannya. Baik konsekuensi tercapainya keinginan dan konsekuensi gagalnya keinginan.
Konsekuensi logis agar dapat tercapainya keinginan, adalah dengan meningkatkan kemauan. Mau untuk berusaha mencapai keinginan, mau untuk berjuang, mau untuk sukses, juga mau untuk menerima resiko dari apa yang diperjuangkannya -termasuk resiko untuk sukses dan berhasil atau sebaliknya-.
Keinginan harus disertai dengan tindakan untuk mewujudkannya. Bukan hanya sekedar ingin tetapi harus mau dan berusaha memperjuangkannya. Disinilah kemauan berperan penting. Ketika kemauan sudah mulai tumbuh, sedikit demi sedikit harus ditingkatkan agar semangat untuk terus “mau” tetap tumbuh dalam diri.
Inilah lima faktor yang seharusnya mendapat perhatian kita dalam mempersatukan elemen-elemen bangsa dan memajukan Negara ini, yaitu dengan cara:
– Selalu mengingat, mengambil pelajaran dari para founding father kita bagaimana mereka, khususnya, dalam hal membangkitkan rasa nasionalisme dan membebaskan negri ini dari penjajahan, sehingga bangsa Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaannya.
– Menjadikan bahasa Indonesia bahasa pemersatu yang selalu dijaga dan di pergunakan dalam berkomunikasi antar elemen-elemen bangsa yang mempunyai beraneka ragam bahasa daerah.
– Menjunjung tinggi hukum adat yang beraneka ragam dan tersebar di tanah air bangsa ini, dan menjadikannya sebagai aset budaya bangsa yang harus di pelihara, dihormati, di kembangkan, atas nama Indonesia.
– Selalu memperhatikan pendidikan generasi bangsa dalam berbagai disiplin ilmu, karena pendidikan merupakan modal utama untuk bisa membangun dan memajukan bangsa ini. Hal ini akan bisa terwujud apabila seluruh komponen bangsa menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam kehidupannya baik dalam kehidupan pribadi-pribadinya, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
– Selalu terus-menerus menumbuhkan kemauan dalam diri setiap elemen bangsa untuk selalu bersatu dalam menjalin persatuan dan kesatuan serta memajukan bangsa ini.

Kesimpulan
Dari peranan pemuda dalam pergerakan kemerdekaan tersebut, paling tidak terdapat tiga faktor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia: Pertama, pemuda telah menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi lokomotif perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia. Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi trend setter sejarah Indonesia. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan. Dari gugusan sejarah Indonesia yang jangan pernah dilupakan adalah bahwa kontribusi terbesar terbentuknya sejarah Indonesia karena adanya komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda di masa lalu. Kita sebagai generasi muda yang hidup di masa ini, harus menjadi estapet perjuangan para pendahulu kita, baik dalam hal ikut serta dalam mempertahankan kesatuan dan kedaulatan bangsa Indonesia, maupun dalam memajukannya menuju masa depan Indonesia yang mandiri, berkeadilan, sejahtera (baldatun thayyibatun warabbun ghafur).
Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus dari daerah, yang menjadi bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, juga sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama, yaitu memajukan Indonesia secara bersama-sama, sebagai implementasi nyata dari pengakuan kita terhadap tanah air satu, bangsa satu dan bahasa satu, yaitu indonesia.
Ketiga, bahwa modal utama yang harus diperhatikan, ditanamkan dan di kembangkan dalam membangun persatuan dan kemajuan bangsa yang paling utama adalah lima faktor, yaitu: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan, yang di bingkai oleh tiga pokok utama, yaitu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa indonesia.

* Makalah ini disarikan dari berbagai sumber.
* Makalah ini di sampaikan dalam seminar peringatan hari sumpah pemuda yang ke 81 yang diadakan di KBRI Tripoli Libya.

Entry filed under: Makalah Diskusi. Tags: .

Mengembalikan Makna Kemerdekaan

1 Komentar Add your own

  • 1. rwicaksono  |  Mei 9, 2010 pukul 4:15 am

    click on kaumanjogja.blogspot.com

    Balas

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Alamat Kami

International Islamic Call College P.O.Box 3369 Tripoli Libya Telp: - (+218) 0928726451 - (+218) 0927318249 E-mail: pcim_libya@yahoo.com

Kalender

Oktober 2009
S M S S R K J
« Agu   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: