PLURALISME DAN EFEKTIFTAS BERAGAMA

  • Oleh: Ellen

    “…Upaya pencarian makna itu di tengah pesatnya kemajuan teknologi akan menjanjikan harapan (rising expection) atau malah menimbulkan frustasi (rising frustation) …” (John Naisbitt, Nana Naisbitt, Douglas Philips)

  • Terhitung 14 abad lamanya Islam masih tetap eksis di muka bumi dengan al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber pokok ajarannya. Namun apakah cara berpikir kita tentang Islam selama ini sudah benar? Dalam artian apakah ajaran Islam yang kita lakukan selama ini sudah merupakan representasi dari agama itu sendiri? Ataukah justru selama ini kita hanya melakukan ritual-ritual agama yang bisa jadi itupun hanya warisan dari orang tua. Tanpa kita tahu mengapa kita melakukan itu? Atau apa tujuan kita melakukan ritual tersebut?
    Selama ini kita dibiasakan untuk nrimo, menelan begitu saja ajaran Islam yang kita anggap baik. Orang tua atau guru agama kita hanya mengajarkan cara shalat, bagaimana berpuasa, bagaimana berzakat, bagaimana berhaji dan sebagainya, yang semuanya itu masih dalam tataran pengamalan ritual. Mereka (orang-orang yang disebut ahli agama) tidak atau belum menjelaskan inti dari agama itu sendiri. Mengapa kita lakukan itu? Atau memang terlalu sulit untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat abstrak.
    Sebagian kita yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan agama lebih mendalam, atau bagi orang yang biasa berpikir mendalam, menggunakan akalnya untuk berkontemplasi, mencari makna dari segala sesuatu, mungkin persoalan tentang efektifitas beragama ini tidak menjadi masalah, meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada diantara kita yang bersikap masabodoh mengenai hal ini. Akan tetapi bagaimana dengan orang awam yang pengetahuan agamanya pas-pasan, sebatas tahu cara shalat, mengaji, puasa, zakat, dan lain-lain? Atau orang-orang yang menjadikan Islam hanya sebagai formalitas identitas saja?
    Salahkah mereka? Sebenarnya ini bukan persoalan salah dan benar. Karena perbedaan latar belakang, pengalaman dan pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap cara berpikirnya mengenai agama. Justru saya berpikir karena kekonsistenan mereka inilah Islam bisa eksis hingga kini. Terlepas dari paham atau tidak dengan apa yang mereka lakukan. (lagi…)

    Mei 6, 2009 at 5:23 pm Tinggalkan Komentar

    BIDADARI SUCI

    Hmmm…aku jadi malu,
    karena kutahu jasadku masih terbelenggu
    kebodohan dan kenistaan
    Hanya kekosongan yang melanda

    Tapi, apalah hendak dikata…
    hatiku telanjur mengharap
    hadirnya bidadari suci
    yang mampu meredam gejolak nafsuku
    mendingin masalah, dan
    menjadi sahabat sejati

    Lucu…! Padahal aku hanyalah aku
    seorang yang tak pantas
    mendamping bidadari dalam khayalku

    Namun sekali lagi, apalah hendak dikata…
    hasrat itu begitu memuncak
    menghiasi dinding-dinding kalbuku

    Biarlah suara-suara sumbang bergema
    membisik di belakangku
    merespon ketidakadilan hasratku ini
    Apa peduliku…?

    Ku hanya ingin merengkuh bidadariku
    lalu kuraih jemarinya
    agar ia menuntunku menuju surga-Nya

    Namun, ku tak tahu dimana dia berada
    mungkinkah ini sebatas mimpi
    Atau…kan ada malaikat mengantarnya kemari?

    Kunanti kedatanganmu…bahe !!!

    By: Ibank Tawakal

    Mei 1, 2009 at 10:17 am Tinggalkan Komentar

    Turots*

    Oleh: Irham Hudaya

    Turots, ya… kata tersebut adalah kata yang menggambarkan warisan atau peninggalan umat Islam terdahulu. Jika kita mencoba berwisata ke dalamnya, kita dapat mengklasifikasikan turots kepada berbagai bentuk, bisa berupa artefak-artefak sejarah seperti bangunan-bangunan kuno, atau cerita turun temurun (dari mulut ke mulut/oral), dan bisa juga manuskrip-manuskrip. Yang kesemuanya itu mempresentasikan peradaban bersama kejayaan kaum muslimin di masa lalu.
    Tak dienyana lagi, semakin kita telusuri Turots ini, semakin kita terpukau bahkan ter ’wah-wah’ kan oleh khazanah keilmuan Islam klasik. Dari data yang ada, terdapat ratusan ribu manuskrip turots karya ulama kita dengan berbagai disiplin ilmu yang ‘terserak’ di seantero perpustakaan dunia. Bahkan Dr. Abd. Adzim Mahmud Dayb dalam muqoddimah al-Burhan fii Ushul al-Fiqh, memperkirakan terdapat sekitar 3 juta manuskrip yang bersumber dari ulama/ilmuan muslim masih tersimpan di rak-rak perpustakaan, jumlah ini tentunya, di luar manuskrip-manuskrip yang hilang, baik itu dibakar pada tragedi jatuhnya Baghdad (1258 M) oleh pasukan Khulaku Khan (Tatar), ataupun manuskrip-manuskrip yang belum terdeteksi atau yang tak dapat lagi dideteksi keberadaannya (hilang/musnah).
    Besarnya jumlah karya leluhur kita, tidak lepas dari kecintaan mereka terhadap ilmu, ditunjang dengan tingkat intelektual mereka yang memang bagus bahkan luar biasa. Hal ini pun terlihat pada tingkat produktivitas mereka. Seorang imam Syuyuthi, pengarang Tafsir Jalalain (1445-1505 M), sepanjang 60 th masa hayatnya, mampu menghasilkan lebih dari 300 judul buku, begitupun juga ulama lainnya. (lagi…)

    Mei 1, 2009 at 10:08 am Tinggalkan Komentar

    SYUKUR TIADA BATAS

  • Oleh: bee_abidah
  • “…Betapa banyak kau mengeluh dan berkata, tak punya apa-apa, padahal bumi, langit dan bintang adalah milikmu
    Ladang, bunga segar, bunga yang semerbak, burung bulbul yang bernyanyi riang….
    Dunia ceria kepadamu, lalu mengapa kau cemberut
    Dan dia tersenyum, kenapa kau tidak tersenyum……” (DR. Aidh al-Qarni)
  • Begitu cepat waktu yang kita miliki berlalu begitu saja. nyaris kita dibuat terlena oleh segala ativitas yang kita sendiri nggak tahu, apakah banyak membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain atau sebaliknya. Mari merenung sejenak, pejamkan mata dan hadirkan bagian- bagian dari episode kehidupan yang sudah kita lalui. Rasakanlah peristiwa hidup mana yang mengelayut berat dalam jiwa kita. Lalu lihatlah peristiwa hidup mana yang menyentak kesadaran kita, betapa melimpah kemudahan, keringanan, dan keluasan yang kita rsakan dan kta lalui dalam hidup ini.(Qs.€Al-Insyirah : 5-6).
    Mengingat semakin bergulirnya zaman, dan semakin canggihnya dunia serta semakin pandainya manusia bermimpi dalam kepalsuan dunia, Maka semakin banyak pula bencana yang terjadi. Fenomena yang mau tidak mau harus kita sadari sebagai akibat dari tangan-tangan jahil manusia itu sendiri. Guyuran mimpi indah, popularitas, kekayaan, kecantikan dan semacamnya, telah memunculkan gaya hidup yang lebih banyak mengacu pada sisi lahir. Padahal semua itu hanya kemasan dan polesan luar saja. Sedangkan sisi dalamnya, bisa saja berlawanan seratus delapan puluh derajat dari sisi luarnya. Belum lagi fenomena alam di akhir abad ini, peristiwa bencana kemanusiaan yang terjadi secara marathon membuat kita benar-benar surprised, kado akhir tahun yang bukannya membuat kita senang, namun menangis dan meratapinya, bahkan tak ayal membuat kita berkalut dalam kesedihan yang mendalam dan membuat kita bertanya – tanya tiap hari, apa kiranya sebab dari semua ini? (lagi…)

    April 24, 2009 at 10:56 am Tinggalkan Komentar

    Libya; Perpaduan Dua Peradaban

    tripoliLibya memang khas dan unik. Negeri ini menghadirkan dua peradaban sekaligus;nuansa Arab dan Eropa. Nuansa ini kental mewarnai kota Tripoli, khususnya.
    Di jalan Medan Aljazair berdiri dengan megah Masjid Gamal Abdul Naser. Dulunya bangunan itu adalah bekas gereja Katedral yang disulap menjadi masjid. Di sebelah kiri masjid terdapat bangunan megah yang dijadikan tempat santai sambil menyeruput kopi khas Arab. Setelah mencoba mencicipi kopi dan roti yang cukup aneh di lidah, anda bisa mengunjungi taman kota Tripoli. Rumput yang hijau serta pohon kurma yang berbuah lebat menjadi pemandangan yang sangat indah. Seakan-akan, anda tak sedang berada di negeri padang pasir.
    Setelah melepas lelah, anda bisa kembali menelusuri jalan-jalan di kota yang dalam bahasa Arab disebut Tarabulus ini. Sepanjang jalan ini, anda akan menyaksikan bangunan-bangunan pertokoan dan perumahan di pusat kota umumnya bergaya Italia. Maklum saja, negeri ini sempat dijajah Italia pada pertengahan abad ke-20 M. Ada juga dua nama kota di Indonesia yang diabadikan di Tripoli, yakni Jalan Bandung dan Jakarta.
    Tempat bersejarah lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah Benteng Peninggalan Turki Usmani. Letaknya di jalan Medan Syuhada. Berwarna cokelat, benteng itu masih tegap berdiri. (lagi…)

    April 19, 2009 at 11:50 am Tinggalkan Komentar

    Puppet Regime atau Pemerintahan Boneka (Merenungkan setiap aksi dan tindakan Politis)

    Dani Moh. Ramdani

    Berhentilah mencari pemimpin yang kuat…
    tapi berfikirlah membentuk pemerintahan yang kompak.

    Rezim orde baru yang bercokol kuat, angkuh dan tahan lama itu akhirnya tumbang oleh satu teriakan kompak nan menggema yang didengungkan oleh masyarakat Indonesia. Ya, peristiwa itu kita kenal dengan Reformasi yang terjadi pada tahun 1998.
    Tidak hanya itu, sejatinya reformasi mengagendakan beberapa hal yang sangat urgen demi kemajuan bangsa. PEMILU 1999 dipandang sebagai titik awal konstitusional untuk memulai reformasi bertaraf nasional, dan katanya PEMILU yang diikuti oleh 48 partai itu berhasil dilaksanakan dengan baik. Konsekuensi logis dari itu semua menyebabkan Negara Indonesia harus berhadapan langsung dengan dinamika politik baru. Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?
    Kegairahan, kegaduhan dan mabuk politik menimpa masyarakat. Meski pada PEMILU kali ini yang jumlah partainya tidak sebanyak seperti yang kita saksikan dahulu, disadari ataupun tidak, ledakan partisipasi politik rakyat begitu terasa kuat.
    Disatu sisi, hal itu patut disambut dan disyukuri bersama sehingga mampu berjalan dengan efektif. Tetapi disisi lain, kiranya menjadikan sebagian masyarakat kehilangan daya kontrolnya masing-masing. Coba kita perhatikan, banyak sekali “keanehan” yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang katanya sadar akan Politik ini. Dari mulai yang mencoba untuk tidak ta’at terhadap peraturan KPU seperti curi star dalam kampanye dan pelanggaran lainnya, perpecahan dan bentrokan antar partai, mengangkat calon legislatif dadakan, saling berebut anggota partai, saling jegal suara dalam pemilihan, sampai money politic. Itu semua merupakan pemandangan yang sering sekali terlihat. Miris bukan? (lagi…)

    April 7, 2009 at 7:40 pm Tinggalkan Komentar

    Talk Show bertajuk: “Komparasi Manhaj Tarjih Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama, Hisab dan Ru’yat sebagai aplikasi”

    ts-2

    Selasa, 31 Maret 2009 sore, halaman berumput hijau disamping Ma’had Kuliyah Da’wah Islamiyah Tripoli Libya, tampak semarak dengan sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai marhalah. Ya, mereka berkumpul ikut berpartisipasi dalam acara Talk show yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Libya.

    Kali ini Majelis Tarjih dan Pendidikan lagi-lagi membuat suatu kejutan dan surprise untuk mahasiswa dengan mengadakan sebuah diskusi Talk Show bertajuk: “Komparasi Manhaj Tarjih Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama, Hisab dan Ru’yat sebagai aplikasi”.

    Organisasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul ‘Ulama (PCINU) Libya sebagai undangan mampu mengerahkan massanya untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini. Tidak hanya itu, mereka pun bersedia mengutus perwakilannya sebagai pembicara. Kali ini diwakili oleh Saudara Anas Mas’udi, Lc. (Majelis Syura PCINU Libya), dan Saudara Imam Shofwan Yahya (Majelis Syura PCINU Libya). (lagi…)

    April 5, 2009 at 9:44 am Tinggalkan Komentar

    Hisab; dalam Tinjauan, Komparasi dan Aplikasi -Muhammadiyah sebagai percontohan-

    Oleh: Nabil Abdurahman

    Salah satu permasalan umat Islam yang menjadi bahan perdebatan yang tidak tuntas sampai saat ini adalah masalah cara penentuan awal bulan Ramadan, Syawal dan Idul Adha, dengan metode Ru’yat al-hilal (melihat bulan dengan mata) atau metode Hisab (perhitungan astronomi). Perdebatan ini tidak hanya di Indonesia, tetapi hampir di seluruh Negara-negara yang berpenduduknya muslim. Hal ini timbul dikarenakan pihak-pihak yang terlibat sama-sama mengklaim bahwa masing-masing pendapatnya adalah yang paling benar karena sama-sama didukung oleh dalil-dalil yang sangat kuat.
    Oleh karena itu, agar kita bisa memahami dengan baik permasalahan tersebut, maka ada baiknya kita melihat beberapa hal, yang menurut pemateri sangat penting untuk diketahui, yaitu: asal mula timbulnya perbedaan dan sumbernya, dalil-dalil yang dijadikan sumber dan penguat pendapat masing-masing kelompok yang berbeda, dan perbedaan faktor teknis dari masing-masing metode.

    A. Asal mula timbulnya perbedaan dan sumbernya
    Berdasarkan temuan pemateri, bahwa asal-mula timbulnya perbedaan pandangan dalam penentuan awal ramadhan, syawal dan idul adha adalah pada generasi Mutaakhirin, dimana pada masa itu ada beberapa ulama yang berpandangan bahwa kalimah فاقدروا له dalam hadits Rasulullah saw dari Ibnu Umar:

    لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له

    tidak bermakna فانظروا في أول الشهر واحسبوا تمام الثلاثين (maka lihatlah di awal bulan dan hitunglah dengan menyempurnakan bilangan tigapuluh hari) seperti yang dikemukakan oleh jumhur ulama; akan tetapi bermakna فاقدروا بحساب المنازل (maka ukurlah dengan menghitung tempat/perjalanan bulan). Diantara ulama-ulama tersebut adalah Ibnu Suraij dari Syafi’iah dan Ibnu Qutaibah dari Muhadditsin. Walaupun demikian, pada masa tabi’in pun sudah ada yang berpendapat serupa, seperti Mutharrif bin Abdullah. Sedangkan Hanabilah berpendapat bahwa makna kalimah tersebut adalah ضيقوا له وقدروه تحت السحاب (sempitkanlah/ambilah yang singkat dan ukurlah dibawah awan). [Lihat: Fathu al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al-Asqolani dan Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim, Imam Nawawi] (lagi…)

    April 5, 2009 at 9:25 am Tinggalkan Komentar

    Metodologi Tafsir Muhammad Abduh

    (Mengkaji pemikiran dan pandangannya dalam bidang tafsir)

    Oleh :Nabil Abdurrahman

    Prolog
    Al-Quran merupakan Kitab Suci umat Islam yang keotentikannya tidak diragukan lagi; baik dari segi asal-usulnya, turunnya, riwayatnya, ayat-ayatnya, dst. Oleh karena itu, umat Islam menjadikanya sumber utama dalam mempelajari, memahami, dan menjalankan ajaran (syariat) Islam.

    Selain itu, al-Quran juga menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.1

    Dengan kedudukannya tersebut, maka pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran merupakan sebuah tuntutan bagi umat Islam. Namun demikian, tidak semua umat Islam bisa memahami al-Quran secara langsung dari nashnya, meskipun dia orang Arab. Karena bahasa yang digunakan didalamnya adalah bahasa Arab yang tinggi, sehingga untuk memahaminya memerlukan kemampuan khusus.

    Pada zaman Rasulullah saw, apabila kaum muslimin mendapatkan masalah yang tidak bisa difahami pada ayat-ayat al-Quran, maka mereka menanyakannya kepada beliau. Kemudian beliau menjelaskannya. Diriwayatkan ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw tentang ayat yang dalam terjemahannya berbunyi: “…sampai sudah jelas benang putih daripada benang hitam…” (QS al-Baqarah 2 : 187). Lalu Rasulullah saw menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan benang putih itu adalah siang, sedangkan benang hitam adalah malam. (lagi…)

    April 3, 2009 at 3:08 pm Tinggalkan Komentar

    Islam dan Modernisasi Politik

    Oleh: Ahmad Nubail

    Umat Islam saat ini sedang dilanda rintangan dan ujian berat. Disaat dunia semakin menjauh dari nilai-nilai agama. Sebuah gelombang modernisasi yang diusung dengan nilai-nilai sekulerisme, dimana hampir semua negara muslim sudah tak lagi menpunyai “taring” di percaturan dunia internasional, hege-moni negara-negara besar pun tak ter-elakkan.
    Negara-negara dunia ketiga -termasuk umat Islam sendiri- yang saat ini, mereka sebut “the Others” hanya mampu menjadi pemeo alias ekornya saja. Sehingga perla-kuan yang diberikan pun berbeda. Standar ganda yang sering dilakukan membuktikan adanya superior dan inferior yang sedang berlansung saat ini.
    Belum lama ini kita telah saksikan rentetan kejadian yang menim-pah umat Islam, mulai dari tuduhan fundamentalis, teroris, dan fasis. Sampai kepada penghinaan terhadap nabi Muhammad lewat karikatur oleh majalah Denmark yang disebarkan luaskan media Barat atas nama kebebasan berekspresi. Yusuf Qardhawi ketua organisasi persatuan cendekiawan Muslim internasional (IUMS) pun mengalang dana untuk membuat website yang akan menampilkan image Nabi Muhammad dan umatnya sebagai anti tesis terhadap kuatnya dominasi media massa Barat. (lagi…)

    Maret 28, 2009 at 7:10 pm Tinggalkan Komentar

    Tulisan Lebih Lama Tulisan Lebih Baru


    Alamat Kami

    International Islamic Call College P.O.Box 3369 Tripoli Libya Telp: - (+218) 0928726451 - (+218) 0927318249 E-mail: pcim_libya@yahoo.com

    Kalender

    Mei 2012
    S M S S R K J
    « Mar    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

    INFO EMDE TERBARU

    Tulisan Terkini


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.